Oleh: Rajuan Jumat*
SAMBIL menderek kereta baju di sebuah stasiun dekat tugu, perpisahan ditinggal dengan pelukan pasca lawatan yang mengesankan. Ucapan sampai jumpa bersusulan di platform percakapan.
Kami saling kenal lalu terseret pertemanan berkat muktamar iklim di Yogyakarta. Ada puluhan anak muda yang mengikuti pelatihan selama lima hari itu–semuanya datang dari berbagai daratan yang berbeda; Solo, Kalimantan, ujung Sumatera, Sulawesi hingga provinsi yang dianggap paling ‘bahagia’ di Indonesia: Maluku Utara.
Dari semua peserta itu, ada yang ongkos keberangkatannya paling murah, hanya delapan ribuan naik kereta. Berbeda dengan kami dari seberang pulau, harga tiket bisa mencapai tiga jutaan rupiah. Aceh terbilang paling mahal dengan waktu penerbangan teramat panjang.
Semua ongkos pulang-pergi ditanggung oleh AktivAsia Indonesia selaku penyelenggara yang memfasilitasi tumbuhnya kapasitas anak muda dalam mengembangkan strategi, memperdalam pengetahuan serta pengorganisiran kelompok komunitas untuk membangun kekuatan dalam kampanye dan advokasi pada isu keadilan sosial-lingkungan.
Orang-orang yang terlibat dalam pertemuan ini telah mengisi daftar panjang ‘kenalan’ yang dijumpai semasa kuliah. Pengalaman serupa takkan pernah terulang di usia yang sama dengan orang yang sama, di tempat yang sama.
Benar kata Herakleitos, seorang filsuf dari Kota Ephesos: “Tak ada yang tetap di planet ini. Segalanya pasti berlalu.”
***
Selasa pagi yang mendung pekan kedua Desember lalu, dari dalam ruang villa Kampoeng Media Sleman, Yogyakarta, kami berkumpul setelah semalam suntuk yang tenang.
Pagi itu diawali dengan perkenalan dan berbalas hobi serta keunikan. Ada yang gemar blusukan hingga penyuka warna ‘biru’ seperti Pahmi Atapptazani, salah satu mentor kami.
Ageng, teman paling kocak dari Kalimantan. Penampilannya khas; rambut gondrong, berkacamata, selalu berkalung handuk kecil. Dia satu dari sekian anak muda Borneo yang menggemari perjalanan. Pria dengan guyonan ‘Jawa adalah Koentji’ itu punya mimpi sederhana; ingin hidup di belantara bersama masyarakat.
Taufik Parende, lain lagi. Teman dari Toraja, Sulawesi Selatan, itu mangaku sebagai seorang yang ‘mutih’. Dia dikatakan kenyang jika sudah makan nasi.
Baik Taufik maupun Ageng, keduanya adalah kenalan yang paling saya akrabi selama di Jogja. Kami bertiga bahkan menginap bersama di kediaman Bang Ghozali, seorang seniman Yogyakarta yang bersedia menampung kami di kediamannya setelah kegiatan Bengkel Hijrah Iklim selesai pada Sabtu pekan kedua Desember 2023.
Teman kami yang satu namanya Restu, dari Aceh. Rambutnya panjang sebahu. Lurus. Dia kini merintis sebuah usaha sosial dengan menggerakkan komunitas tingkat tapak yang fokus pada upaya pelestarian alam dan pemberdayaan masyarakat dalam mengelola hutan berkelanjutan melalui potensi pariwisata bersama komunitasnya–Jejak Rimba Raya–mereka punya bascamp di kawasan hutan Leuser, Aceh Selatan.
Melihat Restu dengan rambut panjangnya membuat saya teringgat dengan Aceh ketika berstatus Daerah Operasi Militer atau DOM. Orang berambut gondrong seperti Restu di masa itu sangat sensitif di mata tentara Indonensia. Mereka dicurigai sebagai cuak Gerakan Aceh Merdeka [GAM] lalu diberantas; hilang atau mati diberondong senjata tentara.
Tentara Indoensia pernah menjadi iblis bagi warga Aceh 34 tahun silam. Kejahatan yang mereka perbuat terkuak dalam berbagai model; laki-laki diburu lalu dibunuh sementara perempuan mengalami penyiksaan fisik dan seksual bahkan ada yang diperkosa. Harta berharga milik penduduk pun ikut dijarah dan anak-anak terpaksa berhenti sekolah.
Linda Christanty, sastrawan asal Pulau Bangka menggambarkan kondisi Aceh ketika tentara Indonesia bercokol dipenuhi tragedi berdarah penuh trauma mendalam. Orang-orang tak bersalah namun dinilai punya hubungan dekat dengan GAM dihajar. Rumah mereka dijarah, penghuninya disiksa; diikat ke pohon laiknya replika manusia di lahan sawah untuk menakut-nakuti hama.
Kejahatan kemanusiaan di tanah Serambi Mekkah yang dilakukan tentara Indonesia berawal dari Hasan Tiro, seorang Aceh yang mendeklarasikan merdeka, lepas dari Indonesia. Deklarasi itu kemudian disambut oleh negara dengan mendatangkan pasukan Tentara Nasional Indonesia–lengkap–dengan persenjataan. Mereka datang secara bergantian menjadi maut dan momok menakutkan bagi kebanyakan orang Aceh. Terlebih lagi para perempuan yang terpaksa menggantikan peran suami untuk menghidupi keluarga.
Kebiadaban tentara Indoensia juga terkuak dalam Perempuan di Tanah Kemelut: Sistuasi Perempuan dalam Situs-situs Krisis Sosial-Ekologis (2019). Kisah kejahatan yang ditulis oleh Noer Fauzi Rachman dan kawan-kawan itu dengan gamblang menelanjangi bagaimana tentara kita berlaku semena-mena; meneror, membunuh atau menjarah para anak perempuan lalu dilecehkan dan diperkosa.
Restu selalu diam ketika disentil mengenai Aceh saat berstatus Daerah Operasi Militer.
—–
*Penulis merupakan mahasiswa Antropologi Sosial Unkhair Ternate

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.