KABAR cepat tersiar di media sosial. Kabar itu “Pangku”. Yang sudah menonton film berjudul “Pangku” lekas memberi pujian. Ada yang menulis panjang (Ade Ubaidil). Ada yang pendek (F Rahardi). Mereka menemukan keistimewaan dari film yang digarap Reza Rahadian. Orang yang sedang longgar bisa menyimak ratusan tulisan di media sosial, yang tidak sabaran dalam memberi sejenis ulasan atau resensi. Banyak yang memuji ketimbang serbuan kritik.
Yang belum menonton memang agak mendapat bekal atau “terganggu” dengan sebaran tulisan di media sosial. Di hitungan 1 atau 2 hari, film itu memberi “ledakan” pengharapan atas mutu film di Indonesia. Yang menonton “Pangku” sudah banyak. Bagi yang punya keinginan ikut menonton dianjurkan menghitung uang dan menentukan jadwal.
Kita bernostalgia saja berbekal judul film. Yang mengulas film sudah banyak. Kita mendingan ikut menumpang ketenaran kata “pangku”. Pada suatu masa, ibu-ibu yang naik bus membuat keputusan membeli satu tiket. Ia membawa anak yang masih kecil. Pengiritan ongkos dilakukan dengan cara memangku anak. Ibu itu terhitung duduk di satu kursi.
Ibu rela capek selama perjalanan. Bobot si anak mungkin masih ringan tapi dipangku dalam waktu lama tetap berdampak untuk tubuh ibunya. Selama di pangkuan, anak biasanya berulah dengan berdiri di atas paha ibu atau main lompat. Pada saat lelah, anak itu tidur. Ibu mengelus atau memijatnya.
Pemandangan yang penuh kasih. Apakah yang memangku anak selalu ibu?
“Pangku” mengingatkan pengasuhan. Kita harus membedakan dengan adegan yang ada dalam film. “Pangku” mudah dilihat berahi.
Peristiwa ibu memangku anak tidak hanya dalam bus. Di serambi rumah atau pekarangan, adegan itu membuktikan ibu yang ingin memberi ketenteraman pada anak sekalian mengajarkan beberapa hal melalui omongan dan senandung.
Pada saat ibu menghadiri hajatan sosial-kultural, si anak mendingan dipangku ketimbang membuat keributan atau bergerak semaunya, yang dapat mengganggu rangkaian acara dalam hajatan. Apakah pemangku tetap ibu, bukan bapak? Kita kadang melihat bapak yang memangku anak.
Di desa, adegan bakal berubah makna. Kita tidak selalu mengartikan “pangku” dalam kepentingan pengasuhan anak. Pada saat terjadi kematian, orang-orang desa kerja bakti dalam menghormati jenazah. Adegan yang tulus adalah memandikan jenazah dengan air dicampur bunga dan daun. Jenazah dalam pangkuan beberapa orang. Kita boleh mengartikan “pangku” dalam kematian, selain pengasuhan dan berahi.
Mengapa film itu berjudul “Pangku” mengakibatkan kita ikut-ikutan memikirkan kata, tokoh, peristiwa, dan makna? Kita berlagak memikirkan “pangku” gara-gara belum berduit untuk beli tiket atau susah menentukan jadwal menonton di gedung bioskop. Bengong sambil memikirkan kata mungkin membuat siang dan malam yang berlalu tidak sia-sia. Sekali lagi, kita masih “terlarang” mengomentari film. Kita belum penonton.
Iseng saja saat pagi berwajah mendung membuka lemari buku. Tangan mengeluarkan beberapa kamus dibawa ke teras. Berharap kamus-kamus dapat tersentuh sinar matahari, yang masih malu-malu terbit. Kamus-kamus lawas memang kangen angin dan matahari setelah lama dikurung dalam lemari.
Apakah kamus-kamus membuat bengong menjadi bertambah mutunya?
Yang membuat film “Pangku” pasti tidak perlu melacak arti dalam kamus-kamus lama. Mereka mudah mengetahui melalui KBBI edisi daring, bukan edisi cetak yang sangat tebal dan mahal. Di hitungan detik, pengertian pangku segera terbaca. Orang yang masih sabar dan main penasaran berusaha melacak sejarah adanya “pangku” dalam kebiasaan minum kopi.
Kita memilih membaca pengertian-pengertian yang “usang” dan menghormati kamus-kamus yang lama tidak tersentuh tangan atau mendapat tatapan mata. Anggaplah kamus adalah “hiburan” saat kita makin terhasut banyak kata di media sosial. Kamus-kamus yang tetap “hidup”, belum ingin masuk kuburan.
Terbukalah buku yang dijuduli Kitab Arti Logat Melajoe susunan D Iken dan E Harahap. Kita membuka yang terbitan 1916. Bau kertas yang bisa mengalahkan aroma kopi. “Pangkoe” diartikan “riba”. Jangan berpikiran macam-macam sebelum melanjutkan membaca pengertian-pengertian selanjutnya. “Memangkoe” berarti “menaroeh pada ribaan”. Yang ingat omongan lawas mulai mengerti “pangkoe” dan “riba”. Dulu, orang kadang berkata: “Di haribaan ibu”. Perkataan itu menyatakan peristiwa di pangkuan ibu atau dipangku ibu.
Kita simak lagi yang tercantum dalam kamus. “Pemangkoe” adalah “orang pendjaga” atau “ganti ajah”. Di urusan politik atau birokrasi, yang terdengar “pemangku kepentingan”. Jadi, birokrasi pun berkaitan “pangku”. Kita belum selesai. Di situ, ditulis “mangkoeboemi” yang artinya “pemangkoe boemi.” Kita teringat gelar di lakon kekuasaan Jawa. Ada gelar “mangkubumi” dan “mangkunegara”.
Akhirnya, kita terbujuk untuk membandingkan dengan kamus lawas yang lain. Kita membuka kamus yang diterbitkan pada 1920, judulnya Baoesastra Melajoe-Djawa garapan R Sasrasoeganda. “Pangkoe” itu “pangkon”. “Memangkoe” bagi orang Jawa dapat disebut “ngembani”. Selanjutnya, ada “mengkoeboemi” yang diartikan “patihing ratoe”. Kamus lawas ini memgingatkan sikap tubuh dan cara pengasuhan di Jawa. Kita pun mengartikan dalam kekuasaan tradisonal di Jawa mengenai kedudukan dan sebutan. Penjelasannya “pangkoe” tidak panjang tapi kita mengaku mendapat lamunan yang berbeda dari film yang sedang ramai pujian.
Matahari mau terbit, kita membuat kamus yang ketiga berjudul Baoesastra Djawi-Indonesia (1949) susunan WJS Poerwadarminta. Kamus yang belum terlalu tua. Di situ, ada “pangkoe” yang berarti “ribaan” atau “haribaan”. Kini, kita memasalahkan “pangkoe” dalam kamus-kamus sambal meniatkan diri menonton film yang menampilkan para pemain ampuh: Christine Hakim, Fedi Nuril, Claresta Taufan Kusumarina, Jose Rizal Manua, Lukman Sardi, Djenar Maesa Ayu, dan lain-lain.
Matahari benar-benar terbit, yang membatalkan mendung. Kita kembalikan kamus-kamus untuk masuk lemari lagi sambal bersenandung meniru Iwan Fals: Duduk sini, nak, dekat pada bapak/ Jangan kau ganggu ibumu/ Turunlah lekas dari pangkuannya/ Engkau lelaki kelak sendiri// Jauh jalan yang harus kau tempuh/ Mungkin samar bahkan mungkin gelap. Lagu dari masa 1980-an bikin terharu. Lagu yang tidak dimunculkan dalam film “Pangku”. Namun, suara Iwan Fals tetap terdengar meski dengan lagu yang berbeda.
Kabut merupakan nama pena dari seorang pengarsip, esais, dan kritikus sastra Indonesia

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.