PADA saat Romo Mudji Sutrisno pamitan, Indonesia masih bertema bencana. Kita yang bersedih menutup 2025. Bencana mengisahkan kematian, sakit, kelaparan, dan kehancuran. Di Indonesia, bencana justru menimbulkan “bencana bahasa” yang berasal dari para pejabat. Kita dibuat bingung dan marah akibat kata-kata atas nama kekuasaan ketimbang kemauan mengurusi bencana.
Kita merasa kehilangan “puisi” saat Indonesia berduka. Segala omongan yang menimbulkan sesalan gara-gara tak puitis. Di saat bencana, petaka-petaka bahasa terjadi hampir setiap hari. Kita kangen puisi. Romo Mudji Sutrisno yang pamitan sempat memberi puisi. Kita mendoakan dan mengenangnya dengan membaca puisi sambil mengerti bencana.
Dulu, Romo Mudji menulis Desember yang bencana. Warisannya itu puisi berjudul “Desember Hujan di Yogya”. Penulisan terjadi pada 29 Desember 2005. Puisi yang mengantar ke peristiwa bencana pernah terjadi di Yogya meski puisi digubah sebelum gempa. Romo Mudji Sutrisno menulis: hujan mencurah/ melimbahi// jarum beribu/ menusuk sumsum/ hembusan angin desember/ kuyup kaku. Ia tak bermaksud meramalkan bakal terjadi bencana. Puisi yang merekam alam, berdekatan kejadian yang mencipta duka. Pada hujan, Romo Mudji Sutrisno seperti merasakan pesan-pesan alam kepada manusia.
Pada akhir puisi, kita membaca alam dan perasaan manusia: sementara limpah/ menderas/ tak juga/ mengisi lelah gundah. Desember itu hujan. Kita mengalami hari-hari basah dan dingin. Hujan yang bukan sekadar ilustrasi bagi orang-orang kasmaran. Pada saat hujan deras, alam menggeliat untuk kesadaran manusia.
Kejadian yang dinamakan banjir, longsor, atau gempa bukan “penghukuman” tapi ajakan membaca keselarasan manusia dan alam setelah adanya gangguan, khilaf, keangkuhan, dan kebodohan. Romo Mudji Sutrisno mewariskan puisi yang mengandung ingatan bencana saat kita belum selesai memikirkan bencana di Indonesia.
Desember bukan cuma duka. Pada masa yang lalu, Rendra mengisahkan Desember adalah asmara. Warisan yang jarang terbaca bila kita memiliki daftar puisi terpenting gubahan Rendra, sejak masa 1950-an.
Kini, kita ingin membaca warisan yang berjudul “Justru Pada Akhir Tahun.” Puisi dalam gejolak-gejolak emosional. Kita mungkin membaca tanpa menduga terjadi lakon yang picisan. Rendra menulis: Berilah aku kenikmatan atau keedanan dan bukan cinta/ cinta memang kudamba tapi jadi asing di dekatnya/ begitu agung ia, mungkin tak kukenal bila singgah di dada/ dan oleh luka-luka tak kupercaya lagi kehadirannya// Terkutuklah saat-saat aku sadari diri begini/ tampak seolah tindakku berbunga dosa/ tindak yang di sisi hatiku sungguh bening/ (Percayalah, matamu akan mengutuk segala dusta!) Kita membaca dengan bergetar.
Rendra dalam jeratan asmara, yang membahasakan secara tegang. Kita yang membaca diundang mengalaminya. Apakah terjadi penciptaan Desember yang kasmaran dalam hitungan waktu dan tebaran makna?
Rendra sadar waktu saat menulis puisi, yang tidak diharuskan berfilsafat waktu. Yang ditulis Rendra: Tolonglah memupus lari sangsiku/ (demi cintamu yang tidak waras kepadaku)/ Pendamlah cintamu dalam perbuatan edan/ atau sekali-sekali khianatilah aku/ atau bermukimlah di peti mati dan jangan menangis lagi/ atau bunuh aku dengan tikaman mesra duka cinta/ dan segalanya akan putus begitu/ bukankah itu mesra, sayangku? Bait yang menolak kelembutan dan ketenangan.
Orang-orang yang mau meninggalkan Desember terbiasa memikirkan waktu. Padahal, tak ada jadwal resmi bagi yang merenungi waktu. Penentunya bukan Desember yang berlalu dan Januari yang bakal menghampiri. Namun, urusan waktu memang sering dimengerti di pergantian tahun.
Rendra tidak berpatokan pada Desember dan Januari. Ia tetap bisa “berwaktu” melalui puisi. Kita mengenang puisi lawas yang berjudul “Waktu”. Puisi digubah saat waktu tidak terlalu berantakan seperti dialami pada abad XXI. Rendra berbagi renungan: Waktu seperti burung tanpa hinggapan/ melewati hari-hari rubuh tanpa ratapan/ sayap-sayap mukjizat terkebar dengan cekatan// Waktu seperti butir-butir air/ dengan nyanyi dan tangis angin silir/ berpejam mata dan pelesir tanpa akhir// Dan waktu juga seperti pawang tua/ menunjuk arah cinta dan arah keranda.
Kita sedikit mengerti tentang waktu yang berujung kematian. Waktu yang memerlukan umpama-umpama agar manusia yang mengalaminya tidak asing atau berjarak. Puisi itu tidak mencantumkan Desember atau Januari, yang biasanya dianggap penentu (renungan) waktu. Yang ditulis Rendra tentang waktu dan kematian tetap mengesankan saat bertaut asmara.
Di pengertian yang berbeda, akhir tahun tidak sepenuhnya bernama Desember. Yang dilakukan oleh F Rahardi adalah mengartikan Desember berbarengan penokohan germo dan pengisahan suatu negeri. Ia tanpa sungkan mempersembahkan puisi berjudul “Pidato Akhir Tahun Seorang Germo”. Puisi yang berlatar lakon hidup di Indonesia abad XX dalam pembentukan citaras Orde Baru.
Puisi yang menimbulkan tawa menguak getir-getir yang pernah terjadi pada masa lalu. Ada yang berulang. Ada yang sekadar ingatan untuk masa Orde Baru. Kita menyimak isi pidato: Saudara-saudari sekalian/ anda semua pasti ingat/ kalau ibu-ibu ngudang anaknya/ nduk,kalau sudah besar nanti/ jadi dokter, ya/ jadi guru TK/ jadi bintang film/ biar murah rezeki dan enteng jodoh// Saudara-saudari sekalian/ ekonomi memang mirip bikini/ semangkin hari semangkin ketat/ sampah plastik jadi rebutan/ kaleng bekas dibisnisken/ bahkan tahi kampret jadi komoditas non migas/ tapi anda semua adalah sampahnya masyarakat/ yang sulit didaurulang.
Yang wajib dimengerti bahwa puisi itu ditulis pada masa Orde Baru. F Rahardi mengetahui banyak bobrok di Indonesia. Ia berpuisi bukan untuk marah tapi menghibur agar terjadi kecewa dan penyesalan. Pada saat Desember, orang-orang mengetahui yang buruk, kotor, jahat, dan brengsek.
Pada akhir 2025, kita sebenarnya memiliki puisi-puisi baru mengenai Desember atau waktu. Kita mengakut tidak sempat membacanya. Apakah kita telanjur terikat pada warisan-warisan saja tanpa ada gairah menikmati puisi-puisi yang baru? Yang terjadi adalah kebingungan kita untuk terus mengartikan Indonesia dengan puisi, dari urusan asmara, bencana, politik, alam, dan kematian. Orang-orang yang masih memerlukan puisi pada pergantian tahun mungkin tersingkir dari keramaian perayaan atas nama bodoh, biadab, linglung, dan konyol.
Kabut merupakan nama pena dari seorang pengarsip, esai, dan kritikus sastra Indonesia

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.