Oleh: Rajuan Jumat*
SEBUAH Toyota putih melaju di Jalan Raya Wates KM 4,5 membawa serta 4 orang penumpang; cewek dan cowok yang setengah hari itu belum bertemu nasi. Mereka baru saja tiba setelah satu setengah jam mengudara di ketinggian puluhan ribu kaki menuju Kulon Progo, Bandara Internasional Yogyakarta.
Maskapai yang mereka naik sebelumnya lepas landas dari Makassar usai menanti keberangkatan sejak pukul 7.48 Waktu Indonesia Tengah pada awal pekan Desember tahun lalu.
Saat berada di ketinggian, perasaan takut turbulensi atau pesawat runtuh seketika merumput di kepala, itu diatasi dengan melafalkan doa-doa keselamatan enam agama yang terselip di kursi penumpang;
“Bismillahi majrha wa mursaha, inna rabbi lagafurur rahim…Bapak sorgawi, kami mungucapkan terima kasih… Demi nama bapak, putera roh kudus, karuniakanlah kami suatu perjalanan yang selamat dengan cuaca yang bagus, amin… Om sanghyang widhi wasa yang maha jaya, yang maha mengatasi segala kematian… Namo tassa bhagavato arahato samma sambuddahassa… Xian you yi de, wei de dong tiang, fei tian se wo, xian you yi de…”
***
Tujuan ke Yogyakarta tak lain untuk mengikuti kegiatan Bengkel Hijrah Iklim–inisiatif AktivAsia Indonesia–salah satu organisasi gerakan sosial yang fokus memberikan pelatihan, memperkaya pengetahuan strategi kampanye dan advokasi pada isu sosial-lingkungan bagi kalangan anak muda, aktivis dan kelompok komunitas.
Jumlah peserta yang berkesempatan mengikuti pelatihan mencapai 20 orang. Wilayah Indonesia timur diikuti oleh Taufik Parende dan Asisah dari Makassar, sementara Teni Prayogo Putri dari Majene. Perempuan berdarah Jawa itu lahir dan besar di tanah Mandar, Sulawesi Barat. Saya sendiri dari Ternate, Maluku Utara.
Kami berempat menuju villa di Kampoeng Media daerah Sleman menjelang siang. Begitu tiba, peserta belum sepenuhnya datang. Teman-teman dari Aceh, Sumatera dan Kalimantan sebagian masih di perjalanan. Jogja saat itu sedang di puncak musim hujan.
Lima hari di Jogya telah menghubungkan saya dengan anak muda berbagai usia dan keunggulan masing-masing. Abdillah Aidil Adh’ha misalnya, sekalipun masih berstatus siswa di Sekolah Menengah Atas, tapi sudah mencatatkan namanya ke dalam antologi puisi–mengenang ulama besar mereka–Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Laki-laki agak pemalu ini datang dari Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, sekitar 6 jam dari pusat Ibu Kota Nusantara.
Novita Sari, seorang penulis dan aktivis. Perempuan asal Jambi itu aktif mendampinggi kelompok petani perempuan dan korban kekerasan seksual.
Teman yang lain datang dari Kota Depok, namanya Fajri Syahiddinillah, penghuni kamar 102. Pria bertubuh kekar ini merupakan alumnus salah satu universitas di Jakarta. Dia terhimpun dalam Pengurus Ikatan Pelajar Muhammadiyah bidang Advokasi dan Kebijakan Publik.
Aziza Nurul Amanah tak kalah benderang. Alumni apoteker di salah satu universitas ternama di Jakarta itu kini menjadi leaders Selaras Muba Lestari–komunitas yang bergerak pada ekonomi kreatif untuk meningkatkan perekonomian masyarakat lokal. Perempuan yang juga terdaftar sebagai mahasiswi Digital Business & Entrepreneur CSEL Universitas Indonesia ini punya satu keinginan besar; kelak menjadi bupati di daerahnya, tanah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.
Areal wisma yang menjadi tempat berlangsungnya pelatihan terdapat sebuah sungai kecil dengan warna kecokelatan. Sekalipun ekosistemnya masih dirimbuni pepohonan hijau menjulang dengan tumbuhan merambat, sudah jarang terdengar cicit serangga atau riuh rendah kepak induk margasatwa.
Wisma pelatihan berkisar lima menit jalan kaki dari kamar peserta. Kami berkumpul dan sarapan pagi sejak pukul tujuh. Kegiatan berlangsung sejam kemudian dan berakhir sebelum pukul dua belas malam.
Selama pelatihan berlangsung, kami duduk membuat lingkaran sesuai kelompok. Ada tim Badak, Mangrove juga tim paling ribut–Avatar–gabungan empat elemen; air, udara, tanah dan api. Terakhir, ada Semioptera Wallaci, dimentori seorang perempuan yang juga fasilitator kami–Rara Zahra.
Semioptera Wallaci sengaja diusung sebagai nama tim karena ingin memperkenalkan satu satwa endemik Maluku Utara; bidadari halmahera. Karena penyebutannya dianggap terlalu berat, kami mempersingkatnya dengan Wallace–akhir dari nama seorang natural Inggris yang masyhur–Alfred Rusel Wallace yang ketika berkunjung ke Pulau Bacan pada tahun 1858-1859 dihadiahi seekor burung cantik dari Ali asistennya. Spesies cendrawasih di luar Papua ini diabadikan dengan nama latin Semioptera wallaci untuk menghormati penemunya.
Dalam setiap hari pelatihan, kami punya dua sesi sesama peserta: relasional dan buddy. Pada sesi pertama, peserta dilatih membangun hubungan relasional dengan orang lain yang punya kepentingan, keresahan dan perhatian yang sama baik pada isu sosial maupun lingkungan agar bisa dihimpun dan ikut aktif melakukan aksi bersama; kampanye, advokasi, publikasi.
Pertemuan relasional punya waktu yang terbatas, terencana dengan percakapan dua arah ‘bukan’ monolog. Ini bertujuan untuk menemukan cerita yang sama dan dapat membangun kepercayaan dari individu lain.
Pada sesi buddy, saya berpasangan dengan Endri Lisnawati, perempuan ceria dari Lampung yang punya ketertarikan pada isu kehutanan, pengelolaan pesisir dan konservasi. Endri mengingatkan saya pada kisah Benteng Terakhir: Tragedi Cinta Harmoni garapan Tomy Irfani (2010) yang diangkat dan terilhami dari Tragedi Talangsari. Novel setebal 500 halaman itu mengulas kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh aparat kita pada penduduk di Dusun Merabu karena teguh mempertahankan tanah, hutan dan kampung halaman.
Berkunjung ke Dieng Banjarnegara
Memasuki hari keempat pelatihan, kami diajak berkunjung ke sebuah daerah di ketinggian 2000 meter dari permukaan laut. Pagi itu, langit masih tampak sisa bintang ketika Toyota Hiace keluar dari wisma, sekitar 17 kilometer ke utara gunung berapi.
Dua mobil berisi 20-an penumpang itu meluncur pada Jumat pekan kedua Desember 2023, menempuh jarak 3 jam menuju Dieng. Sepanjang perjalanan, iringan musik berganti sesuai selera. Ada yang meminta Efek Rumah Kaca, ada juga yang request musik rock Indonesia dari grup Dewa 19.
Jalan menuju Dieng cukup baik. Dari bus kota, sepeda motor pribadi hingga truk penuh muatan melintas dengan aman.
Kami mampir sebentar di sebuah terminal Desa Beran, Kecamatan Kepil, Wonosobo setelah sejam perjalanan. Ada yang turun menyulut rokok, ada pula yang izin buang pipis. Tak berselang lama, mobil yang kami tumpangi kembali tancap gas. Sekitar pukul 9.21 WIB, sebuah tembok bertuliskan “Dieng Banjarnegara” terlihat dari balik kaca mobil.
Dieng terkenal dengan negeri di atas awan, pun sebagai daerah berkabut yang dingin sepanjang hari. Ladang warga dengan tanaman sayur mayur menghijau di sisi kiri dan kanan jalan. Indah dan sejuk barangkali sudah disandang sejak lama oleh wilayah ini.
Kesejukan Dieng kian terus terancam dengan keberadaan geotermal, salah satu pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) yang harus didulang dari perut gunung. Sayur mayur yang hijau terpaksa tumbuh berdampingan dengan pipa panas yang merayap di lahan pertanian dengan asap membubung ke udara.
Hadirnya geotermal dengan narasi ‘energi baru terbarukan’ ternyata tak bisa lekang dari masalah. Catatan bertajuk Geothermal Berbahaya yang diterima dari kelompok aktivis di sana, Proyek Strategi Nasional (PSN) ini justru membuat keruh warga; petani gagal panen, sumber air tercemar, intimidasi dan ancaman kematian karena ledakan dan gas bercun tak bisa dielakkan.
Gemuruh dan bising keributan saat pengeboran berlangsung merupakan siklus yang harus diterima oleh masyarakat setempat. Benturan antara warga lokal yang pro dan kontra pun tidak bisa dihindari.
Beragam protes dan penolakan sudah dilayangkan oleh warga yang menentang geotermal; demonstrasi, penghadangan alat berat dan penempelan poster penolakan juga dilakukan.
Di sebuah tembok lorong dekat musala Banjarnegara, terdapat mural cerobong dengan asap pekat membubung dan seorang nenek yang tampak sedih. Tangannya diangkat hingga ke dada layaknya orang berdoa. Di selah-selah kedua telapak tangannya, mengalir air berwarna biru laiknya air terjun yang jatuh dari ketinggian. Tepat di bawahnya ada kata protes bertuliskan “apa yang kita harapkan dari cerobong besi kalau air bersih tercemar limbah industri” dengan penegasan “biarkan Dieng tetap dingin”.
Sisi buruk dari ‘barang panas’ ini bisa juga disaksikan dalam dokumenter garapan Tim Ekspedisi Indonesia Baru–yang dengan apik mendokumentasikan bagaimana kehadiran geotermal di sejumlah daerah di tanah air termasuk Dieng, membuat warga jengkel dan melawan.
—–
*Mahasiswa Antropologi Sosial UnkhairMahasiswa Antropologi Sosial Unkhair

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.