Sebuah rumah tenun berlantai dua berdiri memanjang di Kelurahan Soasio, Kecamatan Tidore, Kota Tidore Kepulauan. Bangunan beton itu tampak sederhana dari luar, namun menyimpan denyut kreativitas yang tak pernah berhenti. Lantai pertama menjadi ruang kerja para penenun, sementara lantai kedua difungsikan sebagai galeri yang memamerkan hasil karya—mulai dari kain tenun hingga berbagai aksesori perempuan.
Di dalam ruangan yang tenang, suara alat tenun berpadu dengan benang yang melingkar di setiap sudut. Ritmenya konstan, dari pagi hingga sore, menjadi simbol ketekunan, harapan, dan perjalanan panjang seorang perempuan muda: Sri Wahdania Abukasim Sangadji, yang akrab disapa Wani.
Memulai dari Panggilan Hati
Perjalanan Wani dimulai pada 2018. Tanpa ekspektasi besar, ia mengikuti ajakan sederhana untuk belajar menenun—sebuah keputusan yang kemudian mengubah arah hidupnya. Baginya, menenun bukan sekadar keterampilan, tetapi panggilan batin untuk merawat warisan leluhur.
“Saat itu saya diajak Kak Ayu mengikuti pelatihan tenun. Dari situ saya belajar dan mulai memahami kembali kisah-kisah yang pernah dijahit oleh para tetua,” ungkapnya, Minggu, 19 April 2026.
Keteguhan itu membawanya lebih jauh. Ia kemudian diajak oleh sang pemilik rumah tenun, Mama Ita, untuk bergabung dan ikut melestarikan tenun Tidore. Pendekatan yang hangat dan tulus membuat Wani merasa dirangkul, bukan sekadar direkrut. Dari situlah ia tumbuh dan bertahan.
Seiring waktu, Wani dipercaya menjadi penanggung jawab rumah tenun. Perannya meluas—dari mengawasi produksi, membimbing anggota baru, hingga menjaga kualitas karya. Ia juga kerap berbagi ilmu, menggantikan peran pemilik sebagai pengajar, baik di rumah tahanan maupun di sekolah-sekolah.
“Kesempatan ini saya dapat karena tim dan owner yang hebat,” ujarnya.

Melampaui Batas Pulau
Tenun membawa Wani melangkah lebih jauh, melampaui batas pulau. Dari seorang peserta pelatihan, ia kini menjadi pengajar yang berkeliling Indonesia hingga ke mancanegara. Dalam waktu dekat, ia bersama tim bersiap menuju Jerman, dan berpeluang mengajar di Milan, Italia, pada Juni mendatang.
“Doakan kami, semoga lancar,” katanya penuh harap.
Namun bagi Wani, tenun bukan hanya soal kain. Ia juga mengembangkan kepedulian terhadap lingkungan dengan memanfaatkan limbah benang dan plastik menjadi produk bernilai ekonomi. Dari tangan kreatifnya lahir brand “Tulurassi”, yang kini telah memiliki legalitas usaha (NIB).
Produk-produk yang dihasilkan sederhana namun bermakna—anting, gelang, cincin, kalung, hingga dompet berbahan daur ulang. Semua dikerjakan dengan kesabaran, inovasi, dan ketelitian tinggi, karena baginya, menenun adalah proses, bukan hasil instan.
Menenun Mimpi
Wani menempuh pendidikan dari SDN 2 Gamtufkange, SMP Negeri 2 Tidore, hingga SMA Negeri 3 Tidore, sebelum melanjutkan studi di Universitas Veteran Republik Indonesia Makassar. Dari latar belakang sederhana itu, ia kini berdiri sebagai sosok inspiratif di usia 32 tahun.
Ia tidak hanya menenun kain, tetapi juga menenun mimpi—dari Tidore untuk dunia.
“Semua ini tidak lepas dari dukungan owner, tim, keluarga, dan suami tercinta,” tuturnya.
Di balik setiap helai benang yang terjalin, tersimpan cerita tentang ketekunan, keberanian, dan harapan. Dan di rumah tenun itu, mimpi-mimpi terus dijahit—tanpa henti.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.