AKHIR Desember 2025. Saya mengunjungi Kali Kukuba. Sungai yang sejak lama menjadi urat dalam tubuh-sosial Orang Buli jauh sebelum Halmahera Timur resmi disebut sebagai kabupaten otonom pada tahun 2003 dahulu.

Di sepanjang tepinya tumbuh mangrove yang rimbun. Airnya mengalir bermuara ke pesisir—wilayah yang dahulu dikenal sebagai tempat orang-orang memperoleh ikan, kerang dan semacamnya dengan mudah.

Sore itu matahari belum benar-benar tenggelam. Air laut yang surut perlahan mulai naik. Saya bertemu seorang lelaki paruh baya bersama seorang anak kecil dan seekor anjing yang ikut di belakang mereka. Lelaki itu memanggul senapan ikan. Beberapa ekor ikan tergerai di pinggangnya, ditusuk dengan tali nilon. Saya mendekat dan menyapanya dengan bahasa Buli.

Ia bercerita, membandingkan betapa gampang dahulu dapat ikan di sekitar tanjung Buli sebelum Kukuba mengalirkan sedimen ke pantai, sebelum tanjung Buli dikeruk PT. Antam dan Sumberdaya Arindo. “Bajubi aer so tara jernih, ikan so kurang,”

Kalimat pendek itu terus tinggal dalam tempurung kepala saya. Saya menandainya sebagai sesuatu yang lebih besar dari sekadar keluhan seorang nelayan. Karena ini bukan satu-satunya cerita.

Masih di bulan Desember. Seorang teman bilang, warga yang mendiami pulau Belemsi, kampung nelayan itu di depan Mabapura itu, beberapa kepala keluarga mulai memilih jadi kuli tambang dari pada jadi nelayan. Pendapatan ikan teri yang dahulu dalam satu bulan-gelap paling sedikit satu ton, sekarang hanya tiga ratus hingga empat ratus kilogram.

Dua puluh tiga tahun setelah Halmahera Timur mekar, mungkin pertanyaan paling penting adalah kehidupan macam apa yang perlahan hilang dari tanah ini.
Kita ingat, semangat pemekaran lahir dari harapan bahwa kita dapat mengurus kabupaten ini sendiri.

Rentang kendali pemerintahan yang jauh dari Tidore membuat banyak urusan pembangunan, pendidikan, kesehatan, dan administrasi berjalan lambat dan timpang.

Kita membayangkan daerah baru ini sebagai daerah yang kelak dibangun dengan pikiran dan kebijaksanaannya sendiri.

Dua puluh tiga tahun kita mungkin percaya pelayanan akan lebih dekat, pembangunan lebih merata, dan masyarakat lokal dapat lebih berdaulat atas masa depannya sendiri. Meski sebagian dari harapan itu memang terjadi.

Tetapi pada saat yang hampir bersamaan, arah baru pembangunan juga mulai bergerak semakin kuat—industri ekstraktif berskala besar yang sedang berlangsung hari ini tampak menjadi tantangan baru.

Di Buli, Maba dan Wasile ruang-ruang produktif warga telah dijejali IUP-IUP perusahaan tambang. Nelayan tradisional mengeluh karena karang dan terumbu mulai tertutup lumpur merah. Kayu bakar yang dahulu mudah diambil kini tak lagi dapat dijangkau karena telah masuk dalam wilayah konsesi perusahaan. Yang berubah ternyata bukan hanya bentang alam, tetapi juga cara hidup warga lokal.

Anak-anak muda kini lebih membayangkan masa depan di tambang daripada di kampus. Sebagian keluarga memilih pergi ke Papua atau Seram untuk mencari penghidupan baru. Di beberapa tempat, hutan dipandang bukan lagi sebagai ruang hidup bersama, tapi bidang-bidang tanah yang dapat dipatok lalu dijual kepada perusahaan.

Pelan-pelan, bahasa ekologis dan konsep kosmologi lokal masyarakat ikut memudar. Istilah-istilah lama dalam bahasa lokal mulai jarang terdengar.

Pengetahuan tentang laut, sungai, musim, dan hutan kehilangan tempatnya dalam cara kacamata modern membayangkan masa depan pembangunan.

Apa Arti Kemajuan?

Kita sadari memang, sudah ratusan tahun kita diajarkan membaca kemajuan melalui angka-angka pertumbuhan ekonomi. Investasi yang meningkat, jumlah produksi tambang, perputaran uang, hingga kemiskinan yang menurun. Laporan-laporan resmi itu seolah menampilkan sebuah presentasi menuju ‘kesejahteraan.’

Kita tak menutup mata beberapa perubahan itu tengah berlangsung. Jalan utama di poros Maba Utara di Halmahera Timur misalnya perlahan terbuka. Konektivitas antarwilayah mulai tersambung meski masih ada kekuarangan sana-sini.

Tetapi pertanyaannya: apakah pertumbuhan ekonomi selalu berarti kehidupan masyarakat menjadi lebih utuh?

Mungkin di sinilah kita perlu berhenti sejenak. Sebab pertumbuhan ekonomi itu hanya menghitung perputaran uang, tetapi tidak selalu mampu menjelaskan bagaimana kehidupan sesungguhnya dijalani.

Di atas kertas, uang memang beredar lebih banyak daripada dua puluh tahun lalu. Namun, di balik semua itu, ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah kehidupan rakyat menjadi lebih ringan?

Beberapa hari lalu seorang bapak bilang pada saya, “Dulu trada doi masi bisa makan-minum sekarang trada doi deng so tra bisa makan sudah.” Kalimat sederhana, tetapi menyimpan pengalaman sosial yang panjang.

Dahulu kehidupan mungkin tidak mewah, tetapi masih ditopang oleh hubungan yang akrab dengan alam dan ruang hidupnya warga sendiri. Karena itu, tidak punya uang tidak selalu berarti tidak bisa makan.

Hari ini semakin banyak kebutuhan hidup yang harus diperoleh melalui pasar. Air, pangan dan energi, juga transportasi, pendidikan, bahkan sebagian ruang hidup itu sendiri telah menjadi komoditas yang harus dibeli.

Akibatnya, uang yang diperoleh hari ini sering kali hanya singgah sebentar sebelum kembali-keluar untuk memenuhi kebutuhan yang terus bertambah.

Inilah paradoks pembangunan yang jarang dibicarakan. Ketika ekonomi tumbuh, masyarakat memang memperoleh lebih banyak uang, tetapi saat yang sama mereka kehilangan banyak sumber penghidupan yang dahulu tidak bergantung pada uang.

Kehidupan yang sebelumnya ditopang oleh kedekatan dengan sumber-sumber kehidupan bergeser menjadi kehidupan yang ditopang oleh kemampuan membeli.

Akibatnya, semakin banyak orang harus menghabiskan waktu, tenaga, bahkan seluruh usia produktifnya untuk mengejar uang hanya agar dapat mempertahankan kehidupan yang dulu dapat mereka peroleh dengan cara yang jauh lebih sederhana.

Di titik ini, pertumbuhan ekonomi tidak lagi tampak sebagai ukuran kesejahteraan yang sepenuhnya memadai. Karena yang bertambah bukan hanya pendapatan, tapi juga ketergantungan.

Dan yang paling jarang dihitung oleh statistik pembangunan modern adalah hilangnya kemampuan rakyat untuk menopang dirinya sendiri dari tanah, laut, sungai, dan hutan yang selama berabad-abad menjadi sumber kehidupan mereka.

Mungkin karena itu, di usia Haltim yang ke-23 tahun ini, pertanyaan tentang masa depan tidak cukup dijawab dengan grafik pertumbuhan ekonomi atau laporan investasi yang terus menanjak.

Yang lebih penting adalah apakah anak-anak yang lahir hari ini masih dapat mengenali sungai yang sama, laut yang sama, dan nama-nama tempat yang pernah memberi makan leluhur mereka.

Haltim bisa kehilangan masa depannya ketika rakyat perlahan tercerabut dari tanah, air, hutan, bahasa, dan ingatan yang selama ini menopang kehidupan mereka.

Jika Kali Kukuba, Kali Sangaji, Kali Muria dan sungai-sungai lain terus mengalir menuju laut, barangkali yang perlu dijaga bukan hanya airnya, tapi juga kemampuan kita membaca tanda-tanda yang dibawanya.

Buat saya, kemajuan itu bukan berapa banyak yang dikeruk dari perut bumi ini, tapi saat kehidupan tetap bertahan dan diwariskan dengan bermartabat dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Teluk Buli, 31 Mei 2026


*) Penulis merupakan Ketua Salawaku Institut sekaligus warga Buli, Halmahera Timur