Krisis air bersih akibat kemarau panjang melanda sejumlah kelurahan di daerah pegunungan Pulau Tidore, Maluku Utara. Di Kelurahan Gurabunga, warga terpaksa menempuh jarak sekitar 600 meter ke Ake Goa (mata air) dengan menenteng dan memikul jeriken.

Abraham, warga Gurabunga mengatakan, kelurahan tersebut belum tersentuh air PDAM Tidore. Selama ini, warga hanya mengandalkan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk pertanian.

Namun, karena musim kemarau sudah berlangsung satu setengah bulan, warga mulai kesulitan mendapat air bersih. Menurutnya, setiap rumah di Gurabunga, punya bak penampung air seluas 4×5 meter. Tapi, kini stok air pada bak-bak tersebut mulai menipis.

Satu-satunya alternatif warga adalah mengambil air di Ake Goa, yang harus ditempuh dengan jalan kaki sekitar 600 meter dari pemukiman karena jalan tersebut belum diaspal dan tidak bisa dilintasi kendaraan.

“Untuk sekarang ambil air Ake Gowa itu warga angka sesuai dengan kekuatan fisik. Itu bisa 50-100 liter air. Kurang lebih 600 meter ke Ake gowa di tengah-tengah gunung,” katanya kepada Kadera.id, Senin, 10 Agustus 2026.

Namun, karena konsumsi warga meningkat, air Ake Goa pun perlahan-lahan menyusut karena tingkat konsumsi dan ketergantungan warga juga semakin meningkat pada Ake Goa. Ia khawatir, akan semakin parah ketika kemarau berlangsung selama beberapa bulan ke depan.

“Ini musim kemarau so berjalan satu bulan dua minggu dan debit airnya so turun. Kalau kemarau ini, akan air Ake Goa so tara normal,” katanya.

Menurutnya, persoalan krisis air bersih tersebut sudah dalam penanganan pemerintah setempat, terutama BPBD, PDAM, dan sejumlah instansi lainnya. Meski begitu, tetap rumah-rumah warga Gurabunga sulit terjangkau suplai bantuan air.

Ia hanya berharap, pemerintah menata akses jalan menuju Ake Goa, agar kendaraan bisa melintas dan meringankan warga di saat kemarau panjang.

“Kami berharap itu, jalan masuk ke Ake Goa diaspal atau disemen biar masyarakat angkut air bisa pake motor dan mobil. Ini juga untuk mengatasi kesulitan air warga saat musim kemarau,” ujarnya.

Justia Galensong, Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas II Sultan Babullah Ternate mengatakan, wilayah Tidore sudah masuk dalam klasifikasi hari tanpa hujan yang sangat panjang. Menurutnya, El Niño yang membuat pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik yang dapat membuat musim kemarau panjang pangan dan lebih kering dari biasanya.

“Pergeseran awal musim hujan dan kemarau yang berlangsung sebagai pemicu dari kekeringan dapat mengurangi kelembaban tanah,” katanya.

Menurutnya, kemarau panjang dan perubahan iklim yang tidak menentu sangat berpotensi menurunkan debit mata air. Hal ini akibat pola hujan yang singkat (air tak sempat meresap), dan peningkatan laju evapotranspirasi akibat suhu tinggi.

“Dilihat dari kondisi cuaca saat ini, pada umumnya langit topo cerah berawan. Tapi, potensi terjadinya hujan masih kurang, sehingga diprediksi untuk beberapa bulan ke depan masih akan mengalami kekeringan. Dari BMKG sudah memberikan rekomendasi untuk pemerintah daerah, ucapnya

Sementara itu, Muhammad Abubakar, Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kota Tidore Kepulauan mengatakan, pihaknya sudah menangani persoalan krisis air tersebut, bahkan sudah membuat posko satuan tugas (satgas) darurat, termasuk PDAM Ake Mayora.

“Jadi daerah yang terdampak itu daerah di pegunungan, Topo, Kalaodi, Gurabunga dan sejumlah kelurahan lainnya,” katanya.

Ia menegaskan, di Kelurahan Topo dan Kalaodi, suplai air melalui truk tanki masih tersalurkan, baik untuk kebutuhan per rumah maupun untuk pertanian holtikultura. Sementara untuk di Gurabunga, Abubakar akui sulit terjangkau karena kondisi topografinya yang menanjak.

Karena itu, tim satgas bakal ambil langkah alternatif dengan rencana menyediakan profil penampungan air untuk memanfaatkan Ake Goa.

“Penanganannya kita akan adakan profil, baru kita tentukan lokus tertentu yang umum untuk tempat penampungan air sehingga bisa disalurkan ke masyarakat,” ujarnya.