Perkembangan kecerdasan buatan (AI) memaksa industri media mengubah cara kerja. Tak hanya soal penggunaan teknologi dalam produksi berita, media juga dituntut menemukan model baru agar tetap relevan di tengah perubahan perilaku audiens dan dominasi platform digital.
Tantangan itu menjadi salah satu pembahasan dalam workshop yang digelar Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) bertajuk “Jurnalisme di Era AI: Inovasi Newsroom, News Creator, dan Jurnalisme Berkualitas di Tengah Transformasi Industri” di Hotel Emerald Ternate, Sabtu, 19 September 2026.
Workshop tersebut diikuti 30 peserta dari berbagai media di Maluku Utara, baik anggota maupun non-anggota AMSI. Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas insan media dalam memanfaatkan AI untuk kerja jurnalistik sekaligus memperkuat pengelolaan newsroom.
Ketua Umum AMSI, Wahyu Dhyatmika, membagikan sejumlah wawasan yang diperolehnya dari Asia Pacific Media Forum di Bali. Salah satu gagasan yang disorot adalah bagaimana media tetap mempertahankan nilai jurnalisme ketika AI memungkinkan siapa saja memproduksi konten dalam jumlah besar.
Menurut Wahyu, jurnalisme perlu bergerak lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat dalam mengambil keputusan sehari-hari, tanpa meninggalkan proses verifikasi.
“Di era AI terutama ini bisa dieksplorasi untuk memproduksi berbagai macam konten yang bisa membuat keliru, membuat manipulasi,” kata Wahyu.
Karena itu, kata dia, media perlu membawa praktik jurnalisme ke wilayah yang lebih dekat dengan kebutuhan konsumen informasi.
“Bagaimana memindahkan jurnalisme ke wilayah-wilayah consumer goods, wilayah-wilayah pengambilan keputusan sehari-hari, kita tetap melakukan verifikasi jurnalisme,” ujarnya.
Jurnalis sebagai Intellectual Property
Salah satu gagasan yang mencuat dalam workshop adalah IP-based journalism atau jurnalisme berbasis intellectual property (IP).
Wahyu menjelaskan, konsep tersebut mendorong jurnalis tidak hanya menjadi pekerja yang memproduksi berita untuk medianya, tetapi juga membangun keahlian dan identitas yang dapat menjadi aset jurnalistik.
“Bagaimana mengubah jurnalis-jurnalis kita, reporter-reporter kita, atau bahkan kita sendiri menjadi IP, menjadi intellectual property,” katanya.
Menurut dia, seorang jurnalis dapat membangun spesialisasi tertentu, seperti otomotif, ekonomi, investigasi, atau feature. Keahlian tersebut kemudian dikembangkan ke berbagai bentuk produk jurnalistik.
Seorang jurnalis, misalnya, tidak hanya menghasilkan artikel, tetapi juga dapat mengembangkan podcast, newsletter, komunitas, hingga kegiatan offline berdasarkan bidang yang dikuasainya.
Dengan model tersebut, jurnalis dapat membangun personalitas dan kepercayaan audiens di media sosial.
“Jadi si wartawan itu menjadi personality, menjadi sebuah figur yang terpercaya di sosial media. Mungkin seperti influencer, tapi berbasis jurnalisme. Atau bahkan penulis buku hingga menulis script film,” ujar Wahyu.
Ia mendorong media mulai mengidentifikasi jurnalis yang memiliki kemampuan membangun komunikasi publik dan tampil sebagai figur yang kredibel.
“Teman-teman harus belajar untuk tidak lagi bersembunyi di belakang teks, tapi muncul ke depan. Mungkin tidak semua yang mampu, kita harus pilih siapa dari tim kita yang punya kemampuan itu,” katanya.
Media Tak Lagi Memegang Eksklusivitas Informasi
Bendahara Umum AMSI, Gaib Maruto Sigit, melihat tantangan media saat ini bukan hanya datang dari AI. Perubahan perilaku audiens, algoritma platform, regulasi, hingga model bisnis digital membuat media harus terus mencari cara agar tetap bertahan.
“Kita tersesat di jalan yang tidak pasti. Karena itu, tiap hari kita harus berpikir apa lagi yang bisa kita lakukan supaya penonton, pembaca, penikmat media bisa terus-terusan melihat apa yang kita buat,” kata Gaib.
Menurut dia, model bisnis media juga telah berubah. Jika sebelumnya media memiliki kendali atas distribusi informasi, kini audiens dapat memproduksi dan mendistribusikan kontennya sendiri melalui akun media sosial.
“Dulu kita menjadi jurnalis itu kebanggaan karena kita adalah orang pertama yang mengetahui informasi sebelum masyarakat tahu,” ujarnya.
Namun kondisi tersebut berubah ketika masyarakat memiliki platform sendiri.
“Mereka menciptakan medianya sendiri. Mereka punya akun sendiri, punya follower sendiri, dan mereka mendapat keuntungan sendiri,” kata Gaib.
Dalam kondisi tersebut, media tidak cukup hanya memproduksi berita. Media harus terlebih dahulu mendapatkan perhatian audiens sebelum dapat menawarkan nilai kepada pengiklan maupun mitra bisnis.
“Kita memproduksi sebuah berita, kita juga memproduksi konten,” pungkasnya.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.