Fenomena El Niño yang mulai aktif sejak Juni 2026 berpotensi memperpanjang musim kemarau dan memicu krisis air bersih di sejumlah pulau kecil di Maluku Utara. Kondisi ini bahkan diperkirakan dapat berlangsung hingga 2027.
Much. Hidayah Marasabessy, Akademisi Universitas Khairun Ternate, menjelaskan, berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Maluku Utara masuk kategori waspada kemarau panjang akibat pengaruh El Niño.
Ia bilang, ancaman kekurangan air bersih tidak hanya terjadi di Pulau Tidore, tetapi juga berpotensi melanda sejumlah pulau kecil lainnya, seperti Ternate, Makian, Moti, Mare, Maitara, Hiri, serta Pulau Mayau dan Tifure di wilayah Kepulauan Sabaru, Pulau Taliabu.
“Sebagian pemodelan memperkirakan potensi kekuatan moderat hingga kuat, dengan durasi diprediksi berlangsung selama 9 hingga 12 bulan. Periode kering atau puncak kemarau terintens diprediksi terjadi pada kisaran Agustus hingga September 2026,” kata Hidayah, Senin, 10 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, dampak El Niño akan lebih terasa di wilayah kepulauan kecil karena keterbatasan cadangan air tanah. Volume air yang tersimpan di bawah permukaan pulau-pulau kecil relatif lebih sedikit dibandingkan pulau besar yang memiliki struktur geohidrologi lebih luas dan daerah tangkapan air yang memadai.
“Pada pulau kecil dampaknya semakin terasa, terutama terhadap air tanah yang semakin menipis karena volume air yang tersimpan lebih kecil dibandingkan pulau besar,” ujarnya.
Hidayah menyebut, penurunan cadangan air tanah biasanya lebih dahulu terjadi di wilayah dengan ketinggian. Air yang masih tersedia kemudian bergerak menuju wilayah yang lebih rendah.
Kondisi tersebut kini mulai dirasakan masyarakat di sejumlah permukiman, termasuk kawasan pegunungan Pulau Tidore yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat kemarau berkepanjangan.
Menurut Hidayah, ancaman ini seharusnya dapat diantisipasi sejak beberapa tahun terakhir. Maluku Utara sebelumnya mengalami anomali cuaca berupa La Niña yang menyebabkan curah hujan tinggi hampir sepanjang tahun.
Kondisi tersebut, kata dia, semestinya dimanfaatkan untuk memperkuat cadangan air melalui pembangunan instalasi pemanenan air hujan (IPAH), embung, serta menjaga kelestarian ekosistem yang berfungsi sebagai daerah tangkapan dan penyimpan air.
“Harusnya pengoptimalan instalasi pemanenan air hujan (IPAH), rekayasa teknis pembuatan embung, dan menjaga kelestarian ekosistem alami dilakukan sebagai langkah mitigasi sebelum El Niño tahun ini,” katanya.
Ia menilai masyarakat dan pemerintah daerah kini perlu beradaptasi dengan kondisi kemarau yang semakin panjang. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memastikan pasokan air dari sumber yang masih tersedia di wilayah hilir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di kawasan yang mengalami kekurangan air.
Jika El Niño berlangsung lebih lama, teknologi pengolahan air laut menjadi air tawar juga dapat dipertimbangkan sebagai alternatif pemenuhan kebutuhan air bersih di pulau-pulau kecil.
“Tentunya butuh suplai air dari sumber di areal hilir yang masih tersedia. Atau, ke depan mungkin menggunakan air laut yang didestilasi bisa menjadi alternatif jika El Niño semakin panjang,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.