Produksi pertanian hortikultura di Kota Ternate masih relatif stabil selama Juni hingga Juli 2026, meski wilayah Maluku Utara dilanda kemarau panjang.

Faisal Dano Husein, Kepala Dinas Pertanian Kota Ternate, mengatakan produksi hortikultura pada Juli 2026 berada pada kisaran 6 hingga 1.338,16 kuintal. Angka tersebut, kata dia, tidak jauh berbeda dibandingkan bulan sebelumnya.

“Produksi pertanian di bulan Juli 2026 paling banyak berkisar 1.338,16 kuintal dan paling sedikit sekitar 6 kuintal. Ini tidak jauh berbeda dengan bulan sebelumnya,” kata Faisal, Rabu, 12 Agustus 2026.

Menurutnya, aktivitas pertanian hortikultura di Kota Ternate paling banyak tersebar di wilayah Ternate Barat dan Kecamatan Pulau Ternate. Posisi berikutnya berada di wilayah Ternate Selatan, sedangkan kelompok tani paling sedikit tercatat di Ternate Tengah.

“Ini terbagi dari total kelompok tani di Kota Ternate yang sebanyak 159 kelompok,” ujarnya.

Faisal mengatakan, meski sebagian besar lahan pertanian di Kota Ternate telah beralih fungsi, petani hortikultura tetap aktif berproduksi. Mereka memanfaatkan lahan-lahan sempit untuk menanam berbagai komoditas dan menjaga produktivitas setiap bulan.

“Sistem pertanian itu tersebar di spot-spot kecil dengan luas lahan sekitar dua hektare,” jelasnya.

Namun, Faisal mengakui kemarau panjang tetap menjadi tantangan bagi sektor pertanian. Kondisi tersebut dapat memicu kekeringan, menurunkan kelembapan tanah, meningkatkan risiko serangan hama, serta mengurangi ketersediaan air, terutama di wilayah pegunungan.

Situasi itu berpotensi menghambat produktivitas tanaman hortikultura. Bahkan, keterbatasan pasokan air juga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran di lahan pertanian masyarakat.

“Kurangnya pasokan air dapat meningkatkan risiko kebakaran lahan pertanian masyarakat,” katanya.

Untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim, Dinas Pertanian Kota Ternate melalui tim penyuluh rutin melakukan pemantauan terhadap kondisi pertanian. Pemantauan dilakukan untuk memastikan ketersediaan air, mendorong penggunaan teknologi budidaya yang efisien, sekaligus membantu petani mengatasi berbagai kendala teknis di lapangan.

Faisal juga mengingatkan petani agar tidak melakukan pembakaran saat membuka lahan karena dapat memicu kebakaran yang lebih luas.

“Edukasi budidaya melalui teknik hemat air, pembuatan mulsa, dan irigasi tetes sangat penting agar kelembapan tanah tetap terjaga,” ujarnya.