Rustam Jauhar (46) berjalan pelan menuju keran air di bagian belakang rumahnya di Kelurahan Foramadiahi, Kecamatan Pulau Ternate, Senin, 10 Agustus 2026. Tangannya memutar tuas keran. Ia kemudian mendongak dan tersenyum ketika air mulai mengalir.
Bagi Rustam, aliran air itu bukan sesuatu yang biasa. Ia sudah menunggu selama tiga hari.
Di kawasan pegunungan Foramadiahi, air bersih kini menjadi kebutuhan yang tak selalu mudah didapat. Ketika kemarau panjang melanda dan hujan tak kunjung turun, ketergantungan warga terhadap layanan air PDAM semakin terasa. Sekali distribusi macet, aktivitas sehari-hari ikut terganggu.
Kondisi itu juga memperlihatkan rapuhnya akses warga terhadap kebutuhan dasar. Sistem pengairan yang sebelumnya hanya melayani Foramadiahi kini harus menopang kebutuhan warga di tiga kelurahan sekaligus.
Dulu, warga Foramadiahi mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 kWp yang merupakan bantuan Pemerintah Kota Ternate untuk memompa air. Saat itu, kebutuhan air warga relatif tercukupi meski operasional pembangkit bergantung pada sinar matahari.
Kondisi berubah sejak inverter PLTS mengalami kerusakan pada 2019. Sistem pemompaan kemudian dialihkan menggunakan listrik PLN untuk menyedot air dari sumur bor di Kelurahan Kastela yang dikelola PDAM Ake Gaale Kota Ternate.

Sejak saat itu, sumber air tersebut tak hanya dialirkan ke Foramadiahi, tetapi juga ke Kelurahan Kastela dan Jambula. Ketiganya bergantung pada sumber air yang sama.
Sistem distribusi air di tiga kelurahan itu menggunakan tiga bak penampungan. Bak penampungan terakhir berada di puncak Foramadiahi sebelum air dialirkan ke rumah-rumah warga.
“Pas ada panel surya, air jalan bagus. Karena hanya khusus di Foramadiahi. Cuma sekarang kan ada di Kastela dan Jambula pakai air di sini,” kata Rustam saat ditemui reporter Kadera.id, di rumahnya.
Ironisnya, meski bak penampungan terakhir berada di Foramadiahi, warga di kawasan itu justru kerap kesulitan mendapatkan air.
Biasanya, warga masih memiliki pilihan lain, menampung air hujan. Namun, kemarau panjang yang melanda Ternate membuat pilihan itu nyaris tak tersedia. Hujan yang diharapkan turun untuk mengisi bak penampungan justru tak kunjung datang.
“Di sini (Foramadiahi), selama tiga hari hanya satu kali air mengalir. Itu pun tra penuh satu profil. Mungkin banyak yang pakai jadi kurang jalan,” ujarnya.
Ketika air tak mengalir, Rustam dan keluarganya harus mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam kondisi mendesak, mereka bahkan harus turun ke Kelurahan Sasa hanya untuk mandi di rumah kerabat.
“Setengah mati sekali. Jadi kadang tong turun bawa deng keluarga mandi di Sasa,” ungkapnya.
Perempuan Dominan Terasa
Krisis air bukan hanya soal sulitnya mendapatkan air untuk minum dan mandi. Bagi perempuan di Foramadiahi, air yang macet berarti bertambahnya beban pekerjaan rumah tangga.
Ani (40), warga Foramadiahi, mengatakan kebutuhan air bersih dirasakan semua orang. Namun, perempuan menjadi kelompok yang paling terdampak karena sebagian besar pekerjaan rumah tangga masih bergantung pada mereka.
“Tong mama-mama ini keluhan banyak. Tong mama ini urus samua,” katanya dengan nada kesal.
Ketika air PDAM tak mengalir, Ani biasanya meminta air dari bak penampungan milik tetangga. Namun, jika persediaan air di lingkungan sekitar juga menipis, warga tak punya banyak pilihan.
“Kalau air tra bakalan, tong bacuci di kali belakang sana. Atau tong minta tetangga yang ada bak. Kemarau ini begini kan tra air hujan di bak. Banyak warga yang sudah turun londri bacuci di bawah,” tuturnya.

Bagi Ani dan warga lainnya, persoalan air bukan lagi sekadar tentang kapan keran kembali mengalir. Air menentukan bagaimana pekerjaan rumah tangga diselesaikan, bagaimana keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari, hingga berapa jauh mereka harus pergi ketika persediaan air habis.
Keluhan yang Berulang
Keluhan mengenai distribusi air bersih di Foramadiahi sebenarnya bukan hal baru.
Ismit, salah satu pemuda Foramadiahi, mengatakan persoalan itu sudah beberapa kali disampaikan kepada Pemerintah Kota Ternate, khususnya pengelola PDAM Ake Gaale. Namun, menurut dia, gangguan distribusi masih terus terjadi.
“Sering macet, tambah penyaluran bergilir. So pernah sampaikan keluhan ini. Tapi tra ada tanggapan serius dari Pemkot,” katanya.
Kemarau panjang membuat air yang semula dianggap sebagai kebutuhan sederhana berubah menjadi persoalan yang harus diperjuangkan setiap hari.
Di Foramadiahi, ketika hujan tak kunjung datang dan aliran PDAM tersendat, warga harus mencari jalan sendiri agar kebutuhan paling mendasar itu tetap terpenuhi.
Bagi Rustam, Ani, dan warga lainnya, menunggu air mengalir bukan lagi perkara sepele. Tiga hari menunggu satu aliran air cukup untuk menunjukkan betapa rentannya kehidupan ketika kebutuhan dasar bergantung pada sistem yang tak selalu berjalan.
Foramadiahi hanyalah satu dari sejumlah kawasan pegunungan di Ternate yang menghadapi persoalan serupa. Di tengah kemarau panjang, krisis air perlahan bukan hanya mengeringkan bak penampungan, tetapi juga menguras tenaga warga yang setiap hari harus mencari cara untuk mendapatkan air.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.