“Wee… ini satu. Ini satu. Ada anak kus-kus!”
Teriakan itu memecah kesunyian malam dan langsung mengundang perhatian rombongan yang tengah melakukan patroli sekaligus monitoring keanekaragaman hayati (kehati) di kawasan Danau Tolire, Kelurahan Takome, Ternate Barat, Ahad malam, 28 Juni 2026.
Satu per satu peserta mendekat ke arah datangnya suara. Cahaya senter kemudian diarahkan ke ranting pohon jamblang, tempat seekor anak kus-kus mata biru (Phalanger matabiru) bertengger. Sepasang mata kebiruannya memantulkan cahaya di tengah gelapnya hutan, sementara satwa endemik itu tampak tenang memperhatikan orang-orang yang mengamatinya dari bawah.
Asis, seorang pemuda Takome yang menggenggam kamera Canon, segera bersiap mengabadikan momen langka tersebut. Beberapa kali rana kameranya berbunyi, hingga akhirnya kus-kus mata biru itu perlahan menyusup ke balik rimbunnya dedaunan dan menghilang dari pandangan.
Rombongan pun kembali melanjutkan penelusuran malam, menyusuri hutan di sekitar Danau Tolire sambil mengamati berbagai jenis satwa lainnya.
Bagi warga Takome dan Komunitas Pulo Tareba, patroli semacam ini bukanlah hal baru. Namun, kegiatan malam itu merupakan bagian dari Program Kemitraan Wallacea bertajuk “Konservasi Endemik Berbasis Tapak: Aksi Komunitas di Takome, Kota Ternate.”

Program tersebut diinisiasi oleh Halmahera Wildlife Photography (HWP) dengan dukungan Burung Indonesia dan Packard Foundation sebagai upaya menjaga kelestarian keanekaragaman hayati Takome yang kini menghadapi berbagai ancaman.
Dewi Ayu Anindita, Ketua Halmahera Wildlife Photography (HWP), mengatakan sebanyak 20 orang terlibat dalam patroli tersebut. Mereka terdiri atas pemuda Takome, anggota Komunitas Pulo Tareba, serta beberapa mahasiswa Universitas Khairun yang secara kebetulan ikut bergabung.
Menurutnya, patroli dilakukan di empat titik di Kelurahan Takome. Dari hasil monitoring, kus-kus mata biru hanya ditemukan di dua lokasi, yakni satu ekor di kawasan Pantai Jikomalamo dan tiga ekor di kawasan Danau Tolire.
“Total ada empat ekor kus-kus mata biru yang terdata saat monitoring. Selain itu, kami juga menjumpai kupu-kupu, belalang, kadal, laba-laba, dan burung madu sahul,” ujarnya.
Selama program berlangsung, HWP menargetkan penurunan angka perburuan kus-kus mata biru hingga 50 persen. Sebab, perburuan satwa endemik Pulau Ternate itu masih tergolong tinggi.
“Monitoring keanekaragaman hayati dilaksanakan sebulan sekali,” katanya.

Yuhdi Safu, Pengurus Komunitas Pulo Tareba, mengatakan pihaknya memiliki kepedulian besar terhadap kelestarian kus-kus mata biru yang hanya hidup di Pulau Ternate. Namun, ancaman terhadap satwa tersebut masih terus terjadi karena menjadi sasaran para pemburu yang menggunakan senapan angin.
Pria yang akrab disapa Ibeng itu mengungkapkan, perburuan kus-kus mata biru hampir selalu terjadi setiap tahun, terutama menjelang akhir Desember. Sebagian pemburu menjadikan satwa tersebut sebagai hidangan untuk menyambut pergantian tahun.
“Kusu ini dong buru untuk dikonsumsi,” ucapnya.
Ancaman yang terus berulang membuat warga bersama pemuda Takome dan Komunitas Pulo Tareba rutin menggelar patroli. Mereka bahkan beberapa kali memergoki dan menangkap para pemburu.
Kasus terakhir terjadi pada Senin malam, 29 Desember 2025. Saat itu, warga memergoki empat pemburu dan menyita 18 ekor kus-kus mata biru serta seekor soa-soa layar. Jumlah tersebut menjadi temuan perburuan terbesar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Itu terakhir kali. Sampai sekarang belum ada lagi,” kata Ibeng.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.