Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tidore Kepulauan mencatat sebanyak 40 kasus HIV/AIDS sepanjang tahun 2025 di wilayah kota tersebut.

Dari jumlah itu, satu orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 39 orang lainnya masih menjalani pengobatan dan melakukan kontrol rutin di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tidore Kepulauan.

“Jika dilihat dari jenis kelamin, penderita HIV/AID terdiri dari 13 perempuan dan 27 laki-laki, dengan rincian tiga orang anak-anak dan 37 orang dewasa usia produktif,” ungkap Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Tidore Kepulauan, Nurbani H. Sangadji, Kamis, 18 Desember 2025.

Menurut Nurbani, satu kasus yang berujung kematian tersebut merupakan pasien dewasa. Namun, pihaknya belum mengetahui secara pasti penyebab kematian pasien tersebut.

“Alasan meninggalnya satu pasien tersebut belum dapat kami pastikan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, seluruh pasien HIV/AIDS mendapatkan obat khusus berbentuk kapsul yang disediakan oleh pemerintah pusat dan tidak diperjualbelikan secara bebas. Distribusi obat dilakukan melalui Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara, kemudian disalurkan ke kabupaten dan kota.

“Jika pasien merasa lebih nyaman menjalani pengobatan di rumah sakit, maka obat langsung didistribusikan ke rumah sakit,” jelasnya.

Pasien yang melakukan kontrol rutin di RSUD akan diberikan obat untuk dikonsumsi selama satu bulan. Apabila pasien tidak datang sesuai jadwal, pihak rumah sakit wajib berkoordinasi dengan puskesmas setempat untuk menelusuri keberadaan pasien tersebut.

Terkait penularan HIV/AIDS, Nurbani menyebutkan, virus tersebut dapat menular melalui cairan darah, salah satunya akibat penggunaan jarum suntik secara bergantian, seperti pada pengguna narkoba.

“Ada beberapa kasus pasien yang rutin minum obat dan saat dilakukan pemeriksaan ulang hasilnya negatif. Namun, mereka tetap harus melakukan follow up secara berkelanjutan. Jangan sampai setelah dinyatakan negatif, daya tahan tubuh menurun sehingga virus kembali berkembang,” katanya.

Ia juga menambahkan, alat skrining HIV/AIDS sangat penting untuk mengetahui sebaran kasus berdasarkan jenis kelamin. Namun saat ini, alat skrining tersebut masih diprioritaskan bagi ibu hamil.