Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Ternate gagal mencapai target Pendapatan Asli Daerah (PAD) 2025. Hingga akhir tahun, realisasi PAD baru mencapai Rp11 miliar dari target Rp14,5 miliar.
M. Saiful, Sekretaris Disperindag Kota Ternate, mengatakan sumber PAD terbesar tahun ini masih berasal dari Pasar Higienis Bahari Berkesan dan Pasar Bastiong. Namun, kontribusi kedua pasar tersebut belum optimal karena berbagai kendala di lapangan.
“Memang kita tidak capai target. Kita hanya capai di angka 75,92 persen. Itu karena kendala-kendala di lapangan,” kata Syaiful kepada Kadera di ruang kerjanya, Senin, 2 Februari 2026
Menurut Saiful, rendahnya capaian PAD disebabkan banyak lapak yang belum difungsikan. Selain itu, praktik sewa-menyewa lapak antar pedagang kerap terjadi tanpa melibatkan Disperindag. Sejumlah pedagang juga menolak membayar retribusi dengan alasan fasilitas pasar belum memadai. Kondisi ini, kata dia, menggerus potensi PAD.
Ia menyebut Disperindag mengelola 1.321 kios yang tersebar di sejumlah pasar, mulai dari Dufa-dufa hingga Sasa. Besaran retribusi kios bervariasi sesuai ketentuan peraturan daerah dan luas bangunan.
“Kalau [seluruh kios] itu terpakai [dan membayar retribusi sesuai ketentuan], semua bisa capai PAD. Tapi ini kan banyak [kios] yang tidak terpakai,” ujarnya.
Meski realisasi PAD hanya Rp11 miliar, Saiful menilai angka tersebut sudah maksimal dengan kondisi yang ada. Ke depan, Disperindag tetap memasang target PAD 2026 sebesar Rp14,5 miliar. Evaluasi awal akan dilakukan pada triwulan pertama, April 2026.
Ia berharap ada peningkatan kesadaran pedagang untuk membayar retribusi. Namun, pemerintah daerah juga dituntut memperbaiki fasilitas pasar.
“Yang namanya retribusi, kita harus siapkan fasilitasnya, baru pedagang gunakan dan dia bayar retribusi. Karena ini bukan pajak,” kata Syaiful.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.