Universitas Bumi Hijrah (Unibrah) Tidore resmi menjalin kerja sama dengan Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 28 Tidore melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang berfokus pada pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang pengabdian kepada masyarakat. Penandatanganan berlangsung di ruang pertemuan SRMA 28 Tidore, Jumat, 19 Juni 2026.

Kolaborasi ini menjadi langkah awal kedua lembaga pendidikan dalam membangun sinergi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui berbagai program pendidikan, pengabdian masyarakat, dan pengembangan kapasitas peserta didik.

Abidin Mahifa, Kepala SRMA 28 Tidore, mengatakan kehadiran Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam memutus rantai kemiskinan melalui investasi di sektor pendidikan.

Menurutnya, pendidikan menjadi instrumen paling efektif untuk membuka akses dan kesempatan bagi masyarakat kurang mampu agar dapat meningkatkan taraf hidup di masa depan.

“Sekolah Rakyat hadir dengan semangat memberikan kesempatan yang sama kepada setiap anak bangsa untuk memperoleh pendidikan yang layak. Kami meyakini bahwa kemiskinan tidak bisa diselesaikan hanya dengan bantuan sesaat, tetapi melalui investasi jangka panjang pada kualitas sumber daya manusia. Karena itu, kolaborasi dengan perguruan tinggi seperti Unibrah menjadi sangat penting untuk memperkuat misi tersebut,” ujar Abidin.

Sarbaini A. Karim, Rektor Unibrah, menyampaikan bahwa semangat Sekolah Rakyat sejalan dengan visi kampus yang sejak awal didirikan untuk memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan ekonomi.

Ia mengisahkan, pendiri yayasan Unibrah, Haji Hijrah, membangun kampus tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikan, namun terkendala biaya.

“Awalnya kampus ini berada di Tidore. Kemudian Pak Haji Hijrah membangunnya di Sofifi agar lebih dekat dan mudah dijangkau masyarakat di daratan Pulau Halmahera. Tujuannya sederhana, yakni membantu mereka yang tidak bisa kuliah karena faktor ekonomi agar tetap memiliki kesempatan menempuh pendidikan di Unibrah,” kata Sarbaini.

Ia berharap kerja sama tersebut tidak berhenti pada penandatanganan dokumen semata, tetapi mampu melahirkan berbagai program yang berdampak langsung bagi siswa maupun masyarakat.

Sementara itu, Mansyur Djamal, Wakil Rektor III Unibrah, mengungkapkan bahwa sebelum MoU ditandatangani, mahasiswa dan dosen Unibrah telah lebih dahulu menjalankan sejumlah program di SRMA 28 Tidore.

Beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain pembelajaran bahasa Inggris dengan metode kreatif, latihan karate, serta pendampingan penulisan karya ilmiah bagi siswa.

Menurut Mansyur, kerja sama ini akan semakin diperluas dengan melibatkan mahasiswa dari berbagai program studi. Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, misalnya, akan memberikan pelatihan public speaking agar siswa memiliki kemampuan berbicara di depan umum secara baik dan terukur.

Selain itu, dosen dan mahasiswa juga akan berbagi pengetahuan di bidang sains, matematika, hingga desain grafis sebagai bekal untuk meningkatkan kompetensi siswa.

“Kami berharap siswa Sekolah Rakyat memiliki kemampuan dan daya saing yang lebih unggul dibandingkan lulusan lainnya. Karena itu, kami akan terus menghadirkan program-program yang benar-benar memberi manfaat bagi mereka,” ujar Mansyur.

Penandatanganan MoU turut disaksikan Wakil Rektor III Unibrah Mansyur Djamal, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Julahia Ismail, para dosen Unibrah, serta jajaran guru SRMA 28 Tidore.

Melalui kerja sama ini, Unibrah dan SRMA 28 Tidore berkomitmen mengoptimalkan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus memperkuat sinergi dalam mencetak generasi muda yang berdaya saing, berkarakter, dan mampu menjadi agen perubahan bagi pembangunan daerah.