Kondisi perairan pesisir Desa Madapolo, Kecamatan Obi Utara, Kabupaten Halmahera Selatan, berubah drastis dalam empat hari terakhir. Air laut yang biasanya jernih kini tampak berwarna hijau pekat menyerupai kolam air tawar.

Bersamaan dengan itu, puluhan ikan, baik ikan liar maupun ikan budidaya di keramba milik warga, ditemukan mati mengapung di permukaan.

Fenomena tersebut mulai terlihat sejak Jumat, 31 Juli 2026, dan hingga Ahad, 2 Agustus 2026, kondisinya belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Warga mengaku baru pertama kali menyaksikan kejadian serupa.

Mariyam Din (28), warga Madapolo, mengatakan perubahan warna air laut pada awalnya hanya terlihat di sebagian kawasan pesisir dan belum menimbulkan dampak yang mencolok. Namun, beberapa hari kemudian, ikan-ikan mulai mati secara bertahap.

“Di hari berikutnya baru ikan saya di keramba dan ikan liar mati berturut-turut. Yang saya lihat, ikannya sudah terapung. Perubahan warna ini terlihat saat air laut surut. Bentuknya seperti alga,” kata Mariyam kepada Kadera.id, Ahad, 2 Agustus 2026.

Menurut Mariyam, fenomena tersebut belum pernah terjadi selama ia tinggal di Desa Madapolo sehingga menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat pesisir.

Rumiaty (25), warga lainnya, mengatakan hingga kini warna hijau pada air laut masih bertahan dan bahkan semakin meluas. Kondisi itu, menurutnya, tidak hanya menyebabkan kematian ikan, tetapi juga menimbulkan bau tidak sedap yang mengganggu aktivitas warga di sekitar pantai.

“Sudah ada beberapa anak yang mengalami alergi seperti gatal dan muncul memar setelah mandi di air laut itu,” ujarnya.

Kondisi perairan pesisir Desa Madapolo, Kecamatan Obi Utara, yang berubah drastis jadi hijau dalam empat hari terakhir. Foto: Warga for Kadera.id

Selain berdampak terhadap kesehatan, kata Rumiaty, perubahan kondisi perairan juga mulai memukul perekonomian nelayan. Banyak nelayan memilih tidak melaut, sementara sebagian warga enggan membeli maupun mengonsumsi ikan hasil tangkapan karena khawatir terhadap kualitasnya.

“Kalau secara tekstur, air hijau ini seperti bermuatan lumut,” ungkapnya.

Hingga kini, warga belum mengetahui penyebab pasti perubahan warna air laut tersebut. Mereka belum bisa memastikan apakah fenomena itu berkaitan dengan aktivitas perusahaan tambang di sekitar wilayah tersebut atau merupakan gejala alami.

Masyarakat berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera melakukan penelitian dan pemeriksaan kualitas air untuk memastikan penyebab perubahan warna laut serta kematian ikan yang terjadi.

“Kami berharap kondisi perairan bisa segera pulih sehingga masyarakat dan nelayan dapat kembali beraktivitas seperti biasa, serta lingkungan pesisir kembali membaik,” tutup Rumiaty.