Akademisi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun, Dr. Muhammad Ridwan Lessy, mendesak Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan segera mengambil sampel air laut di pesisir Desa Madapolo, Kecamatan Ubi Utara.
Desakan tersebut disampaikan menyusul fenomena perubahan warna air menjadi hijau pekat yang disertai kematian ikan dan dugaan iritasi kulit pada sejumlah warga.
Menurut Ridwan, pengambilan sampel harus segera dilakukan agar penyebab perubahan kualitas air dapat dipastikan secara ilmiah. Pengujian tidak hanya dilakukan terhadap air laut, tetapi juga ikan serta komponen lingkungan lainnya.
“Dinas Perikanan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kesehatan, dan instansi terkait perlu segera melakukan pengujian yang lebih detail dengan mengumpulkan sampel air, ikan, serta unsur lingkungan lainnya,” kata Ridwan kepada Kadera.id, Ahad, 2 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, perubahan warna air laut menjadi hijau, munculnya bau menyengat, hingga dugaan iritasi kulit merupakan gejala kompleks yang memerlukan analisis berbasis data lapangan.
Secara visual, fenomena yang terjadi di pesisir Madapolo hingga kini terjadi juga di sejumlah desa di Pulau Obi. Termasuk mulai terlihat di wilayah Laiwui yang memiliki karakteristik mengarah pada algae bloom atau ledakan populasi alga. Fenomena ini menyebabkan air berubah menjadi hijau pekat akibat pertumbuhan alga yang sangat cepat.
Menurutnya, kondisi tersebut umumnya dipicu oleh tingginya kandungan nutrien, terutama nitrogen dan fosfor, di perairan yang relatif tenang sehingga mempercepat perkembangan alga.
“Alga bloom biasanya didominasi jenis alga hijau-biru seperti Microcystis, Spirulina, Oscillatoria, dan Phormidium. Keberadaannya menghasilkan warna hijau tua dan mengindikasikan tingginya kandungan bahan organik seperti amonia maupun hidrogen sulfida di perairan,” ujarnya.
Ridwan bilang, kombinasi gejala berupa perubahan warna air, bau menyengat, dan efek iritasi pada kulit lebih mengarah pada ledakan fitoplankton atau sianobakteri dibandingkan sedimen laterit. Sedimen laterit umumnya hanya menyebabkan air berwarna cokelat kemerahan tanpa menimbulkan gangguan dermatologis.
Ia menyebut sedikitnya ada tiga faktor yang dapat memicu terjadinya algae bloom.
Pertama, masuknya nutrien berlebih seperti nitrogen dan fosfor yang dapat berasal dari limbah pertanian, limbah domestik, maupun aktivitas pertambangan. Ketika nutrien menumpuk di perairan dengan sirkulasi yang minim, pertumbuhan alga dapat meningkat secara drastis.
Kedua, kenaikan suhu permukaan laut akibat perubahan iklim. Menurut Ridwan, suhu air yang lebih hangat menjadi kondisi ideal bagi pertumbuhan alga.
“Saat ini Indonesia, termasuk Maluku Utara, sedang berada pada fase El Niño yang cukup kuat. Kondisi ini meningkatkan suhu udara dan berpotensi memperparah pertumbuhan alga. Puncaknya diperkirakan terjadi pada Desember 2026 hingga Januari 2027,” katanya.
Ketiga, proses upwelling atau naiknya massa air dari dasar laut ke permukaan yang membawa mineral dan nutrien dalam jumlah besar. Kondisi tersebut dapat memperkaya unsur hara di permukaan sehingga memicu ledakan populasi alga.
Meski demikian, Ridwan menegaskan penyebab utama fenomena di Madapolo tidak bisa disimpulkan hanya dari pengamatan visual. Apalagi perubahan warna air telah diikuti kematian ikan di keramba.
“Analisis ilmiah harus mencakup parameter biologis, kimia, dan fisik agar penyebab utamanya benar-benar dapat dipastikan,” ujarnya.
Ia juga tidak menutup kemungkinan aktivitas pertambangan turut memengaruhi kualitas perairan. Menurutnya, limpasan sedimen maupun air limbah tambang yang mengandung nutrien dan logam berat berpotensi mempercepat terjadinya algae bloom sekaligus mengganggu ekosistem laut.
“Untuk kasus Madapolo, kombinasi nutrien dari aktivitas keramba, limpasan tambang, serta kondisi oseanografi lokal sangat mungkin memperkuat fenomena air hijau dan menyebabkan kematian ikan,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Halmahera Selatan, Idris Ali, yang dikonfirmasi melalui pesan singkat terkait fenomena tersebut belum memberikan tanggapan hingga berita ini diterbitkan.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.