AZAN zuhur baru saja berkumandang ketika Ismail Hamza alias Emby berdiri dari kursi kayu di ruang tamunya, pada Selasa, 16 Juni 2026. Ia masuk ke kamar mengenakan gamis putih berlengan panjang dan kopiah putih, lalu berjalan ke tempat wudu di belakang rumah.
Rumah sederhana di Kelurahan Fitu, Ternate Selatan, Kota Ternate, Maluku Utara, itu sekaligus menjadi tempatnya bekerja. Di ruang tamu, tiga gaun pengantin berwarna merah marun, hijau zamrud, dan putih berkilau menggantung di balik lemari kaca. Sebuah meja rias dengan cermin besar berada dekat lemari.
Begitu selesai azan, Emby pamit melaksanakan salat di Masjid Raudhatul Murtasidin tak jauh dari rumahnya. Ia tidak ingin melewatkan waktu salat. Kebiasaan itu, kata orang-orang terdekatnya, bukan sesuatu yang baru, bahkan jauh sebelum ia berangkat ke Tanah Suci.
“Sebelum berangkat [haji], Papa Haji so jaga sambayang,” kata Rizal, salah satu anak asuh Emby di rumah.
Rizal bukan satu-satunya remaja yang diasuh Emby, ada Iton dan seorang bocah bernama Amina berusia enam tahun. Ketiganya diasuh Emby sejak kecil. Mereka sudah dia anggap anak sendiri. Kedua remaja itu sering membantu Emby di rumah atau sedang melayani tamu yang datang merias.
Tahun ini, Amina mulai masuk taman kanak-kanak. Bertahun-tahun sebelumnya, Emby juga pernah mengasuh ibu Amina ketika masih kecil. Kini, giliran anak perempuan itu yang tumbuh dalam pengasuhannya.
Mereka semua memanggilnya Papa Haji. Sapaan itu menandai perjalanan panjang hidup Emby sebagai seorang transpuan. Dari sosok yang dulu kerap dipanggil “banci” atau “waria” hingga kini lebih dikenal sebagai Haji Emby.

Mencari Tempat Bertahan, Menemukan Jalan
Emby lahir di Manado, Sulawesi Utara, 49 tahun silam. Ia tumbuh sebagai anak laki-laki di tengah dua saudara perempuan. Sejak kecil, ia lebih senang membantu ibunya memasak, mencuci pakaian, atau menemani saudara-saudara perempuannya bermain daripada bersama anak laki-lain lain. Dari keseharian itu, ia mulai merasa dirinya berbeda, meski belum memiliki bahasa untuk menjelaskan perasaan tersebut.
Nama Emby juga lahir dari permainan masa kecilnya. Sang ibu memanggilnya demikian karena ia gemar bermain bombik, permainan bongkar-pasang boneka yang populer pada tahun 1990-an. Nama itu ia pakai hingga sekarang, bahkan lebih dikenal ketimbang nama lengkapnya, Ismail Hamza.
Masa kecilnya berubah ketika proyek reklamasi pesisir Manado menggusur rumah keluarganya pada akhir 1980-an untuk kawasan Boulevard. Situasi itu membuat kondisi ekonomi keluarganya memburuk. Orang tuanya tidak lagi sanggup membiayai sekolahnya sehingga Emby mulai bekerja di usia belia. Apa saja ia kerjakan selama menghasilkan uang untuk membeli buku dan membayar kebutuhan sekolah, termasuk ikut perias merias orang.
Harapan melanjutkan pendidikan membawanya merantau ke Ternate pada awal 1993. Ia tinggal bersama seorang paman, saudara kandung ibunya, di Kompleks Falajawa II, Kelurahan Bastiong Karance, Ternate Selatan, sambil bekerja di sebuah salon.
Namun, hubungan dengan pamannya renggang, pamannya tidak pernah benar-benar menerima identitasnya. Hanya beberapa bulan, Emby akhirnya memilih keluar dari rumah. Sementara pemilik salon tidak lagi menggunakan jasanya.
Ia hidup berpindah-pindah tempat tinggal, menumpang di rumah teman, tanpa pekerjaan hingga akhirnya bertemu Mami Ketty. Bagi banyak transpuan dan pekerja seks di Ternate saat itu, Mami Ketty bukan sekadar seorang transpuan, tetapi juga menjadi tempat bagi mereka yang ditolak keluarga, kehilangan pekerjaan, atau tidak memiliki tempat tinggal.
“Saya panggil Emby kamari. Jadi dulu saya tampung waria bukan hanya Emby, ada dari Flores, dari Papua, dari Sorong, dari Biak. Sampai dong [mereka] belajar,” kata Mami Ketty. Dengan Mami Ketty, Emby merasa diterima.
Saat itu, Ketty mengontrak rumah bersebelahan dengan kantor Polres Ternate. Rumah itu sekaligus menjadi tempat pelatihan tata rias kecantikan. Termasuk Emby, mereka belajar merias wajah, menata rambut, memilih kosmetik, membaca karakter pelanggan, hingga bertahan hidup sebagai perias.
Dari Ketty, Emby belajar bahwa pekerjaan salon dapat menjadi jalan hidup. Ia menghabiskan bertahun-tahun belajar sekaligus bekerja bersama Mami Ketty sebelum akhirnya membuka salon sendiri selepas kembali dari Surabaya pada akhir 2001.
“Selama bertahun-tahun Emby tinggal deng [bersama] saya. Dia memang orang yang rajin,” kata Mami Ketty. “Dia belajar serius, sampe sudah merasa sanggup, akhirnya bangun usaha sendiri.”
Saat itu, peralatan yang Emby miliki sangat sederhana. Modalnya hanya sebuah cermin, beberapa kuas, gunting rambut, sisir, dan perlengkapan rias yang dibeli sedikit demi sedikit dari hasil kerja.
Keahlian tangannya perlahan dikenal masyarakat. Ia merias pengantin, wisudawan, hingga tamu pesta. Sebagian pelanggan datang dari mulut ke mulut. Mereka tidak mengenalnya dari media sosial, melainkan dari hasil riasan yang dianggap mampu bertahan seharian.
“Dulu belum ada kamera seperti sekarang. Kalau ba make up [merias wajah] kurang bagus, langsung kelihatan,” katanya sambil tertawa.
Profesi itu pula yang mempertemukan Emby dengan berbagai kalangan. Ia dapat orderan ke rumah-rumah, merias anak pejabat, keluarga pedagang, hingga masyarakat biasa. Banyak orang mengenalnya dari pekerjaan itu sebelum mengenal dia sebagai petugas pendamping HIV.
Pada awal 2000-an, nama Emby juga cukup dikenal di kalangan komunitas transpuan Ternate. Ia pernah menjuarai lomba busana pantai dan sebelumnya dinobatkan sebagai Ratu Waria Berkebaya dalam sebuah ajang seni yang digelar oleh Pemerintah Kota Ternate masa pemerintahan Syamsir Andili.
Popularitasnya tidak serta merta menghadirkan rasa aman bagi sebagian besar transpuan. Kala itu orang masih menyebut transpuan sebagai “wadam”, “waria”, hingga “banci”. Mereka masih sangat diidentikkan dengan kehidupan malam. Banyak di antara mereka mencari nafkah di jalanan, menghadapi kekerasan, razia, hingga cemooh dari masyarakat.
Kata “wadam” pernah dikenal dengan singkatan “Hawa” (wanita) dan “Adam” (pria) yang diperkenalkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 1968. Tujuannya memberikan sebutan yang lebih positif dari istilah “banci” atau “bencong” yang kerap digunakan sejak abad ke-19. Istilah itu diprotes kelompok agama di Jawa Timur, lalu diganti menjadi “waria” yang diambil dari gabungan suku kata “wanita” dan “pria”, pada 1978.
Meski konotasinya terkesan negatif, sapaan itu tidak membuat Emby merasa terkucilkan. Bagi dia, mau dipanggil apapun yang penting tidak disertai dengan kekerasan. Dia merasa kata-kata itu sebagai identifikasi terhadap identitas gendernya.
Gem, Sekretaris Srikandi Kieraha Maluku Utara, mengatakan masa muda Emby tidak jauh berbeda dengan transpuan lain di Ternate. Ia telah mengenal Emby selama puluhan tahun saat hidup bersama Mami Ketty. Dahulu, mereka sama-sama akrab dengan dunia malam dan hidup di bawah bayang-bayang stigma dan prasangka.
“Waria ini masih sangat identik dengan dunia malam. Emby dulu juga begitu,” kata Gem.

Sejak muda Emby suka berdandan, kata Gem. Rambutnya panjang, bodinya “aduhai”. Perawakan masa muda itu terekam dalam video lagu Manis-Manis Unti. Emby jadi salah satu dari sembilan penari latar atau backup dancer pada lagu lawas Maluku ciptaan Andar Gailea itu.
Gem mengatakan “Emby dulu tabalai cicak [sangat berantakan].” Seingat Gem, sejak masih muda, ia sering melihat Emby melaksanakan salat. “Jadi dari sebelum dia berangkat [ibadah haji], waktu muda itu, saya so kadang lia dia sambayang, [saya beberapa kali melihat dia salat].” ujar Gem.
Salat tidak pernah bergantung pada pakaian yang ia kenakan. Ketika masih berambut panjang dan berdandan sebagai perempuan pun, Emby tetap bersih-bersih, mengenakan sarung, kopiah, dan pergi salat. Baik saat berada di rumah maupun di masjid.
Mami Ketty juga cerita kalau Emby sejak dulu rajin salat. “Iya, dia tetap salat. Sampe pulang haji dia jaga lima waktu,” tambah Mami Ketty.
Gem bilang, ketika ada pertemuan di coffee shop atau di mana pun, ketika suara azan, Emby langsung izin melaksanakan salat. Ia selalu terlihat bersih setiap hari agar tidak ketinggalan waktu salat tiba.
“Saat masih berdandan pun saya tetap salat seperti laki-laki,” terang Emby.
Emby menyadari tidak semua orang memahami pilihan tersebut. Ada yang menganggap ibadahnya tidak sah. Ada pula yang mempertanyakan mengapa seorang “waria” masih bersikeras menjalankan salat seperti laki-laki.
Namun, Emby tidak pernah memperdebatkan pandangan semacam itu. Bagi dia, urusan iman dan ibadah bukan ditentukan oleh manusia, melainkan oleh Yang Maha Kuasa. Ia hanya berusaha menjalankan apa yang diyakini sebagai kewajiban seorang muslim.
“Mau orang bilang apa saja, itu dorang pe hak,” jelas Emby. “Saya sekarang so selesai deng diri sandiri.” [mau orang bilang apa saja, itu hak mereka,” jelas Emby. “Saya sekarang sudah selesai dengan diri sendiri].
Pergulatan batin itu berjalan beriringan dengan pekerjaan sehari-harinya. Dari hasil merias, ia bisa memenuhi kebutuhan sekolah, membantu keluarga, menyekolahkan beberapa keponakannya hingga dewasa, bahkan hingga membangun rumah sendiri di Ternate pada 2002.
Di rumah itu pula, Emby akhirnya bisa membawa kedua orang tuanya dari Manado ke Ternate agar bisa hidup lebih dekat dengan mereka. Saat itu, ia masih harus mengontrak rumah lain untuk membuka usaha tempat riasnya. Namun sayang, ayah dan ibunya meninggal dunia jauh sebelum Emby menunaikan ibadah haji
Memasuki awal dekade 2020-an, jalan hidup Emby kembali berubah. Ia diminta bergabung dengan Yayasan Pelangi Maluku (YPM) untuk mendampingi program pencegahan HIV setelah sebelumnya aktif bersama LSM Rorano.
Emby direkomendasi oleh Asghar Saleh, Direktur LSM Rorano. Ketika organisasi tersebut tidak lagi menjalankan program pendampingan, YPM mengambil alih layanan bagi kelompok berisiko dan orang yang hidup dengan HIV.
Di lembaga itu, Emby bekerja sebagai konselor dan petugas penjangkau. Tugasnya bukan mengobati pasien, melainkan mendampingi mereka menjalani proses konseling, pemeriksaan kesehatan, hingga memastikan terapi antiretroviral (ARV) tetap dijalankan secara teratur.

YPM telah bermitra dengan Dinas Kesehatan Kota Ternate sejak 2020. Menurut dr. Fathiyah Suma, Kepala Dinas Kesehatan Kota Ternate, petugas lapangan YPM berperan penting dalam menjangkau kelompok populasi kunci, terutama laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (LSL), agar mereka dapat mengakses layanan pemeriksaan dan pengobatan HIV.
“YPM melalui petugas lapangannya merupakan motor penggerak pertama dalam melakukan pendekatan pada kelompok populasi kunci terutama LSL, dengan adanya petugas lapangan dari YPM layanan Puskesmas sangat terbantu dalam meningkatkan capaian testing pada kelompok LSL,” kata dr. Fathiyah.
Emby ditempatkan sebagai petugas lapangan di Puskesmas Gambesi, Kecamatan Ternate Selatan. Selama pendampingan, kata Emby, tidak sedikit laki-laki muda yang datang dengan rasa takut setelah mengetahui dirinya terinfeksi sifilis ataupun HIV. Sebagian memilih diam karena khawatir identitas seksualnya diketahui keluarga atau lingkungan tempat tinggalnya.
“Jadi kalau dia berhubungan seksual lagi, dia bisa tertular lagi,” kata Emby ketika menjelaskan pentingnya pengobatan kepada seorang pasien remaja.
Pasien yang didampinginya bukan hanya transpuan. Banyak di antaranya memiliki keragaman identitas gender dan orientasi seksual yang berbeda-beda, termasuk heteroseksual, laki-laki yang berhubungan dengan laki-laki (LSL), gay ataupun para pekerja seks, hingga mengedukasi masyarakat yang membutuhkan informasi mengenai pencegahan HIV.
Emby mengatakan, sebagian besar masalah justru muncul karena minimnya pengetahuan. Banyak orang takut memeriksa diri, sementara sebagian lainnya masih menganggap HIV sebagai hukuman atas perilaku tertentu. Karena itu, Emby lebih banyak menjelaskan ketimbang menghakimi. Menurutnya, tugas seorang pendamping bukan menentukan benar atau salah, melainkan memastikan mereka memperoleh layanan kesehatan layak.
Pendekatan tersebut membuat Emby diterima di banyak ruang yang sebelumnya sulit dibayangkan. Ia menghadiri rapat bersama tenaga kesehatan, berdiskusi dengan tokoh-tokoh agama, hingga diundang dalam berbagai kegiatan pemerintah, terutama mengenai pencegahan HIV.
Gem melihat perubahan itu sebagai proses panjang. Menurutnya, masyarakat mulai mengenal Emby bukan semata sebagai transpuan, tetapi juga sebagai pekerja sosial yang membantu banyak orang melewati masa-masa sulit dalam kehidupan mereka.
“Sampe sekarang, alhamdulillah, kalau diundang pemerintah, dinas atau puskesmas, dorang terbuka. Tarada [tidak ada] yang usir,” kata Gem.
Menabung untuk ke Tanah Suci
Peran sosial itu membuat Emby disambut hangat oleh masyarakat, terutama saat akan berangkat ke Tanah Suci. Beberapa tokoh seperti Haji Abubakar Derro, imam masjid Kampung Pisang hingga Ustadz H. Mahmud Zulkiram, Jogugu atau Perdana Menteri di Kesultanan Ternate juga datang saat hajatan doa selamat keberangkatan Emby.
Sebagai Kepala Bidang Bimbingan Kemasyarakatan Islam di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara, Zulkiram menjadi penceramah dan memimpin doa di rumah Emby. Zulkiram jugalah yang menjadi pendamping Emby dan rombongannya selama di Makkah.
Ia melihat Emby orang yang ceria selama berada di Tanah Suci. Bahkan di tengah keseriusan mengikuti ibadah, Emby tetap menjadi sosok yang mudah bergaul dan membawa suasana menjadi riang.
“Emby ikut manasik sejak hari pertama dan sangat serius. Yang menarik, orangnya ceria, heboh, dan kelihatan seperti orang yang sangat senang mau berangkat haji,” kata Zulkiram.
Menurut Zulkiram, keseriusan itu sejak pertama kali mengenal Emby saat manasik haji. Emby tidak hanya rutin mengikuti pembinaan, tetapi juga menunjukkan semangat yang kuat untuk menjalankan ibadah tersebut.
“Dari situ saya melihat sudah berarti dia punya keseriusan melaksanakan ibadah haji,” kata Zulkiram.
Selama mendampingi rombongan jamaah di Tanah Suci, Zulkiram melihat kesungguhan Emby menjalani rangkaian ibadah dengan serius. Emby mengikuti arahan, menjaga salat, dan menjalankan setiap tahapan haji sebagaimana mestinya. Bagi Zulkiram, perjalanan itu bukan sekadar keberangkatannya ke Makkah, melainkan perjalanan seorang muslim yang sedang memenuhi kewajibannya.
Emby cerita, dia tidak pernah bermimpi melihat langsung Ka’bah sebelum akhirnya bertemu sahabat lamanya, Desy, seorang pegawai Bank BRI, pada 2011. Desy ketika itu baru pulang menunaikan ibadah haji mengganti almarhum ayahnya.
Di sela-sela obrolan mereka, Desy mengusulkan agar Emby menabung dan berangkat ibadah haji. Ia sempat ragu-ragu, tetapi Desy terus meyakinkan dia dengan menjelaskan proses pendaftaran hingga keuntungan Tabungan Haji.
“Tara mungkin, saya pe tabalai bagini kong barangkat haji. [Tidak mungkin, kondisi saya yang berantakan seperti ini lalu berangkat haji],” sanggah Emby ragu. Ia pulang dan menerung, “Tapi kemudian saya pulang, kase [buat] tenang pikiran, langsung bilang dalam hati, Bismillah.”

Emby menarik napas panjang beberapa kali sebelum lanjut bercerita.
Saat itu, sistem tabungan haji masih menggunakan Tabanas. Emby membuka rekening dengan setoran awal Rp1,5 juta. Jumlah setoran itu menjadi langkah pertama ia menabung hingga memperoleh nomor porsi keberangkatan.
Ia tidak pernah menghitung berapa tahun waktu yang dibutuhkan. Bagi Emby, niat baik itu ia serahkan semuanya kepada Tuhan. Yang ia lakukan hanya bekerja dan berdoa. Setiap ada rezeki dari merias pengantin atau dari program yang ia dikerjakan, selalu disisihkan untuk tabungan haji.
Sekian lama menanti, namanya masuk dalam daftar calon jemaah haji. Namun keberangkatannya harus tertunda karena pandemi Covid-19. Seluruh rencana berubah, termasuk jadwal keberangkatan ribuan calon jemaah Indonesia.
Emby seharusnya berangkat pada 2020. Ia telah mengikuti manasik haji sejak 2019. Setelah pandemi, seluruh proses dihentikan. Ketidakpastian berbulan-bulan, sebelum akhirnya manasik kembali dilaksanakan. Ia ikut manasik dua kali.
Penundaan itu sempat membuat Emby khawatir. Apalagi saat itu pemerintah Arab Saudi memberlakukan pembatasan usia bagi sebagian calon jemaah. Emby hanya bisa menunggu sambil berharap namanya tetap masuk dalam kelompok yang diberangkatkan.
Dua tahun kemudian, pada 2022, kesempatan itu akhirnya datang. Di Asrama Haji Ternate, Emby kembali mengikuti manasik bersama calon jemaah lainnya. Sudah tidak ada sesi khusus memperkenalkan diri karena seluruh data peserta telah tercatat di Kementerian Agama.
Meski demikian, ia menyadari beberapa orang memperhatikannya. Sebagian baru pertama kali bertemu dengannya. Ada yang kelihatan terkejut, dan saling berbisik. Namun sebagian telah mengenalkan jauh sebelum ia keberangkatan ke Baitullah.
Di antara mereka, ada yang pernah menggunakan jasa Emby sebagai perias pengantin. Ada yang mengenalnya karena ia pernah merias anak, keponakan, atau kerabat mereka. Hubungan itu membuat suasana menjadi lebih cair.
Dalam rombongan itu, Emby dipercaya menjadi ketua regu tujuh. Tugasnya memastikan seluruh anggota kelompok tetap bersama selama menjalankan rangkaian ibadah. Tanggung jawab itu membuatnya lebih banyak memikirkan orang lain ketimbang dirinya.
Hari yang paling ia tunggu akhirnya tiba ketika rombongan memasuki Masjidil Haram. Selama bertahun-tahun, ia hanya mengenal Ka’bah melalui layar televisi dan foto-foto yang beredar di media.
Begitu bangunan berbentuk kubus itu berdiri di hadapannya, langkah Emby mendadak terhenti. Seluruh badannya gemetar. “Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Allahuakbar. Allahuakbar. Saya pe badan-badan totofore [seluruh tubuh saya gemetar].”
Ia bercerita sambil mengelus-elus tangannya. Sesekali menarik napas panjang. Bulu kuduknya berdiri.
Keramaian di sekelilingnya seolah menghilang. Ia memandang Ka’bah dalam diam. Air matanya mengalir tak tertahankan. “Ya Allah, alhamdulillah kita sampe di sini.” Ia kesulitan menjelaskan apa yang ia rasakan saat itu. Rasa haru, syukur, bahagia, sekaligus tidak percaya bercampur menjadi satu. Tubuhnya gemetar.
Selama bertahun-tahun ia hanya melihat tempat itu dari kejauhan, kini ia berdiri tetap di depan Baitullah. Momen itu menjadi puncak dari perjalanan panjang yang ia lalui selama ini.
Sebagai ketua regu, Emby tidak memiliki banyak waktu berlarut-larut dalam perasaan tersebut. Ia harus memastikan seluruh anggota kelompok tetap bersama, terutama ketika menjalankan tawaf di tengah jutaan jamaah dari berbagai negara.
Sesekali ia menghitung anggota rombongannya. Pada waktu makan, ia memastikan seluruh jamaah memperoleh jatah makanan. Ketika ada anggota yang berjalan lambat, Emby memilih menunggu daripada meninggalkannya.
Pelayanan selama berhaji juga meninggalkan kesan mendalam. Tenda-tenda tempat mereka beristirahat dilengkapi tempat tidur, karpet, selimut, dan bantal. Air panas tersedia di depan tenda sehingga kebutuhan jemaah dapat terpenuhi dengan baik.
Karena masih dalam masa pandemi, jamaah tidak diperkenankan mendekati Hajar Aswad. Emby hanya menjalankan tawaf sebagaimana ketentuan yang berlaku saat itu. Bagi dia, bisa berada di depan Ka’bah saja sudah menjadi anugerah yang luar biasa.
Sepulang dari Tanah Suci, kehidupan Emby perlahan berubah. Orang-orang mulai memanggilnya “Haji”. Sapaan itu setiap kali terdengar ketika ia menghadiri undangan, ke pasar, atau kembali bekerja di Puskesmas Gambesi.
Setahun kemudian, Emby kembali ke Tanah Suci menunaikan umrah. Ia berharap kali ini bisa mendekati Hajar Aswad, sebuah batu hitam di sudut bangunan Ka’bah di Masjidil Haram yang diyakini menjadi titik awal serta akhir pelaksanaan ibadah tawaf saat haji maupun umrah. Namun harapan itu juga belum terwujud karena padatnya jamaah.
“Orang sering bilang, pigi [pergi] haji atau umrah bukan semata-mata karena kaya. [Tapi] ada panggilan dari Allah,” jelas Emby.

Menjaga Ruang Kemanusian, Merawat Kerukunan
Sebagai Jogugu di Kesultanan Ternate, Zulkiram menekankan pentingnya menjaga hubungan sosial dan kemanusiaan dengan siapapun. Menurutnya, perbedaan identitas gender tidak semestinya menjadi alasan seseorang bisa direndahkan, dikucilkan, atau menjadi sasaran kekerasan.
Zulkiram mengingatkan bahwa hubungan sosial tetap dibangun dengan siapa pun. Ia menyebut falsafah bala kusu se kano-kano, yang menurutnya mengajarkan bahwa masyarakat yang berbeda-beda tetap berada dalam satu kehidupan bersama.
“Di kesultanan tidak melihat apa sukumu, apa agamamu, tetapi selama dia itu adalah ciptaan Tuhan maka mereka itu tetap harus dijaga hubungan dan silaturahminya,” ujarnya. Prinsip itu, katanya, juga menjelaskan hubungan baik Kesultanan Ternate dengan Dorce Gamalama, seniman transpuan yang menggunakan nama Gunung Gamalama.
Zulkiram juga tidak melihat identitas gender transpuan sebagai alasan mempertanyakan haknya menjalankan ibadah. Bagi dia, haji merupakan bentuk penyerahan diri kepada Tuhan dan kesempatan itu terbuka bagi siapa saja yang mampu. Ia justru melihat perubahan Emby setelah pulang dari Tanah suci sebagai bagian dari perjalanan spiritualnya. “Saya kira ini bagian dari hijrah beliau,” kata Zulkiram.
Adnan Mahmud, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Maluku Utara, mengatakan perjalanan spiritual transpuan seperti Emby justru menunjukkan sisi lain kehidupan mereka yang kerap mendapatkan stigma sosial. Menurut dia, transpuan tidak semestinya hanya dilihat dari identitas gender, tetapi juga kepedulian sosialnya melalui kerja-kerja mendampingi kelompok rentan, termasuk dalam pencegahan HIV.
“Bagi saya tidak masalah. Artinya dia peka dengan lingkungan sosial di mana dia berada. Jadi ada keterpanggilan moral dia sebagai manusia,” kata Adnan. Dia menilai, kepedulian Emby terhadap masalah HIV merupakan bentuk tanggung jawab sosial yang mesti diapresiasi. Menurutnya, kerja semacam itu tidak seharusnya dibebankan kepada satu kelompok saja, melainkan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.
Adnan juga menilai, identitas gender tidak dapat menjadi ukuran untuk menilai hubungan seseorang dengan Tuhan. “Ukuran keimanan seseorang itu tidak dilihat dari situ [sebagai transpuan]. [Tapi] sejauh mana ketakwaan dan ketundukkan dia kepada Tuhan, kepada Allah,” katanya.
Menurutnya, ukuran keimanan adalah sejauh mana seseorang menjalankan ajaran dan ritus keagamaan dengan baik, bukan dari jenis kelamin atau identitas gender. Sebagaimana Emby yang menjalankan salat, berpuasa, berdoa, hingga menunaikan ibadah haji. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah menghakimi seseorang hanya dari penampilan atau identitasnya.
“Allah telah memuliakan manusia, maka tidak boleh sesama manusia saling merendahkan antara manusia satu dengan yang lain hanya karena berbeda jenis kelamin atau yang disebut transgender itu,” ujar Adnan.
Bagi Adnan, pengalaman Emby memperlihatkan pentingnya membangun ruang sosial yang damai tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjauhkan.
“Saya kira kerukunan itu tanpa melihat gender. Kerukunan itu menjadi penting. Tanpa rukun, tanpa adanya kedamaian, negeri ini kita tidak bisa bangun,” jelas Adnan.
Dalam konteks transpuan yang tetap menjalankan kerja sosial dan spiritual, menurut Adnan, bagian dari kehidupan manusia yang tetap memiliki hak untuk dihargai, dilindungi, dan menjalankan keyakinannya dengan aman.[]
Reportase ini merupakan bagian dari kolaborasi liputan Jurnalisme Ramah Gender dan Seksualitas antara Kadera dengan Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) dan Koalisi Rawat Hak Dasar Kita 2026.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.