Proses pemadaman kebakaran di tempat pemrosesan akhir (TPA) Buku Deru-Deru, Kelurahan Takome, Kecamatan Ternate Barat, memasuki hari kelima, pada Rabu, 7 Oktober 2026.

Sejumlah titik kebakaran hingga kini masih belum berhasil dipadamkan. Pemerintah kota Ternate menetapkan masa tanggap darurat selama dua pekan sejak peristiwa pada tanggal 3 hingga 16 Oktober 2026.

Meski begitu, warga mulai mengeluh kondisi tersebut, karena asap kebakaran TPA mulai menyebar dari arah utara ke selatan sehingga sejumlah kelurahan seperti Takome, Sulamadaha hingga Kulaba pun ikut terdampak.

Nunung (43), warga Sulamadaha mengatakan dampak dari asap kebakaran TPA sangat buruk bagi kesehatan warga karena menyebabkan sesak napas dan nyeri di dada. Menurutnya, di kelurahan tersebut sudah ada dua warga yang dibawa ke rumah sakit, sementara lainnya masih bertahan di tengah kabut asap.

“Asap paling banyak sekali. Lansia dilarang kaluar. Karena tong banapas juga sesak. Tong punya dada sakit. Dua warga yang sudah dibawa ke rumah sakit,” katanya kepada reporter Kadera.id saat ditemui di depan rumahnya, Rabu, 7 Oktober 2026.

Ia bilang, hingga kini belum mendapat instruksi dari pemerintah perihal evakuasi. Hanya saja, disediakan posko layanan kesehatan di BLUD Puskesmas Sulamadaha. Pagi tadi, petugas mencatat ada 24 pengaduan warga yang didominasi keluhan ISPA.

Nunung berharap, penanganan kebakaran di TPA segera diatasi sehingga warga bisa beraktivitas normal.

“Tong punya harapan cepat selesai (pemadaman kebakaran) sudah. Tong rasa tara nyaman. Dia punya bau sangat beda,” ujarnya.

Musli Muhammad, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate mengatakan, asap kebakaran TPA tersebut memang berpengaruh penurunan mutu lingkungan dan udara. Meski begitu, hingga kini ia belum mengetahui hasil uji kualitas udara yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Ternate

“Kalau kualitas lingkungan dan udara nanti kita konfirmasi ke Dinkes. Karena sudah melakukan pengukuran di beberapa tempat. Yang jelas, asap ini menimbulkan ganguan,” katanya.

Menurutnya, proses pemadaman yang sedang berlangsung sudah sesuai SOP. Namun, karena karakteristik kebakaran di TPA ini cukup berbeda. Meski terus dipadamkan sejumlah titik api yang berada di lokasi yang berbeda masih terus bermunculan.

“Ini kan ada material sampah, pun gas metana. Sehingga membutuhkan waktu tidak seperti biasanya. Di hari kelima, intensitas asap sudah berkurang. Walaupun angin cukup kencang tapi gumpalan asap tidak tebal kemarin,” ujarnya.

Ia menambahkan, meski terjadi proses pembuangan sampah tidak dialihkan. Pihaknya memanfaatkan lokasi TPA yang tidak terdampak sebagai tempat pembuangan sementara dengan menggali lubang. Setelah kondisi membaik, maka sampah bakal dialihkan ke zona aktif di TPA.

Rizal Marsaoly, Sekretaris Daerah Kota Ternate mengatakan, pihaknya berkolaborasi dengan sejumlah pihak baik di tingkat kota maupun Provinsi Maluku Utara dalam proses penanganan kebakaran di TPA, sebagaimana permintaan warga terdampak agar segara memadamkan api sehingga asap menyebar luas.

Ia bilang, tanggap darurat yang belaku selama 14 hari akan diperpanjang jika proses penanganan masih tetap berlangsung. Saat ini, mobilisasi air masih mengandalkan air di Tolire Kecil, sementara salah satu hidran atau titik sambungan pipa air di Kelurahan Takome dimanfaatkan dalam proses pemadaman.

“Ada penambahan armada juga untuk memaksimalkan proses penanganan di lapangan. Titik api perlahan-lahan berkurang,” katanya

Ia mengatakan, untuk kualitas udara sudah diuji oleh Dinkes Kota Ternate. Namun, hasilnya belum diumumkan. Sedangkan untuk pemeriksaan kesehatan warga di posko layanan, pun terus dilaksanakan kepada lansia, balita, ibu hamil, dan warga yang mengalami ganguan pernapasan.

“Tadi pagi saya cek itu memang ada warga mengalami gejala flu, batuk, yang langsung ditangani dengan diberikan obat dan vitamin. Kalau ada warga yang parah akan dirujuk ke rumah sakit, tanpa dikenakan biaya satu rupiah pun,” ujarnya.