Tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah Buku Deru-deru, Kelurahan Takome, Kecamatan Ternate Barat, mengalami kebakaran pada Sabtu, Oktober, sekitar pukul 13.00 WIT.
Dari luas total TPA 32 hektare ini, hanya 16 hektare lahan area pemanfaatan atau zona aktif. Dan 90 persen dari arena pemanfaatan ikut terdampak kebakaran, sebagian titik api menyebar ke zona tidak aktif TPA.
Femiyanti Naser (27), warga di sekitar TPA di Takome mengatakan, saat kejadian ia masih tertidur. Namun, karena teriakan panik tetangga dan warga lainnya yang sedang berupaya memadamkan api dengan emper, membuat ia terbangun.
“Kejadiannya sekitar jam 1 atau 2 siang tadi. Saya bangun jam dl2 orang so lari bawa ember,” katanya kepada Kadera.id saat ditemukan di lokasi, Sabtu sore, 3 Oktober 2026.
Menurutnya, peristiwa kebakaran bermula dari arah Utara di kawasan jalan menuju Pantai Jikomalamo kemudian api menyebar ke arah selatan. Karena itu, ketika api sampai ke TPA, kebakaran semakin meluas.
“Mangkali ada yang buah roko ka
Kebakaran dia bawa (selatan) dari atas kabawa (Utara). Dari jalan Jikomalamo,” ungkapnya.

Musli Mohammad, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate mengatakan, kondisi cuaca panas dan udara kring mempercepat proses kebakaran material di TPA. Dari 16 hektare luas area pemanfaatan atau zona aktif, 90 persen di antaranya ikut terbakar, sebagian lainnya di zona tidak aktif.
Meski begitu, lanjutnya, tim Damkar Kota Ternate mengerahkan sekitar 4 mobil untuk memadamkan api. Selain itu, mobil water cannon milik Brimob Polda Maluku Utara pun turun membantu pemadaman api di TPA.
“Sampai saat ini kita lihat memang ada titik-titik api tapi tidak sebesar sebelumnya. Kita tidak tahu sumber api dari luar TPA atau dari dalam TPA. Yang pasti dari arah utara ke selatan,” katanya.
Ia bilang, Pemerintah Kota Ternate sudah memperingatkan masyarakat bahwa saat ini memasuki musim kemarau panjang. Pihaknya mengimbau agar tidak membakar atau membuang sampah sembarangan. Namun, justru kebakaran tak bisa dihindari hingga terjadi kebakaran di TPA.
“Saya rasa mitigasi itu penting. Hal ini sebagai bentuk ikhtiar. Apalagi, kebakaran ini (TPA) dapat memicu polusi,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.