A Tek (51) menunjuk sebuah tiang sumur tua yang masih berdiri kokoh di belakang rumah ayahnya, Paunga Tjandra, di Kelurahan Santiong, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, pada Rabu siang, 2 September 2026.
Hanya selangkah dari posisi tiang, tampak lingkaran mulut sumur sudah disegel beton untuk menghindari tanah longsor pasca ambruk dihantam gempa. Sumur itu terakhir digunakan pada sekitar 1990-an.
“Ini dia pe (punya) tiang blok (rol) sumur. Kamar mandi di sini,” kata A Tek.
Keberadaan sumur tua tersebut kerap dikaitkan dengan jejak Alfred Russel Wallace saat menginjakkan kaki di Pulau Ternate pada 8 Januari 1858 hingga awal 1862. Dalam buku The Malay Archipelago, yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul, Kepulauan Nusantara menyebutkan, AR Wallace tinggal di sebuah rumah yang diperoleh dari Mr. Duivenbode—tak jauh dari Benteng Portugis (para peneliti menganggap kini Benteng Oranje peninggalan Belanda).
Di rumah ini, AR Wallace ditemani asistennya, Ali, saat ia mengumpulkan spesimen, lalu menulis catatan alam hingga merumuskan gagasan yang mengubah sejarah ilmu pengetahuan modern lewat teori evolusi Charles Darwin. AR Wallacea bahkan menggambar denah dan mendeskripsikan struktur bangunan rumah huniannya.
“Rumah ini hanya satu lantai. Batu setinggi tiga kaki menjadi dinding, yang kemudian ditambah pelepah sagu yang menopang atap. Bagian serambi terbuat dari pelepah yang dipotong kerangka kayu. Lantainya plesteran stuco, sedangkan plafonnya dari bahan yang sama dengan dinding. Rumah ini luasnya 40×40 kaki persegi, terdiri dari empat kamar, sebuah ruang tengah dan dua serambi. Pohon buah-buahan tumbuh subur mengelilingi rumah ini. Persediaan air bersih saya terjaga berkat sumur yang dalam. Apalagi dalam iklim seperti ini, air bersih merupakan sebuah kemewahan.”

Perubahan tata kota dan padatnya pemukiman menjadi tantangan dalam mengungkap keberadaan rumah ukuran 40×40 kaki atau berkisar 12,2 × 12,2 meter tersebut. Petunjuk fisik yang tersisa adalah sumur tua—salah satunya berada di belakang rumah Paunga.
Pada Desember 2008, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), bersama The Wallacea Foundation (TWF), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan Pemerintah Kota Ternate pernah menggelar International Conference on Alfred Russel Wallace and the Wallacea di Makassar.
Kegiatan itu didukung dengan riset Sangkot Marzuki dan Syamsir Andili, Wali Kota Ternate, berjudul, “The Ternate of Alfred Russel Wallace” yang dipublikasi pada 2015 untuk memperingati 150 tahun garis Wallacea “Surat dari Ternate” atau “Ternate Essay, On Tendency of Species to Depart Indefinitely from the Original Type”—memuat teori evolusi yang dikirim Charles Darwin.
Setelah kegiatan tersebut, tak lama nama jalan Nuri di Kelurahan Santiong pun diubah menjadi jalan Alfred Russel Wallace. Di masa Wali Kota Burhan Abdurrahman, nama Alfred Russel Wallace kemudian diganti lagi menjadi jalan Juma Puasa. Perdebatan warga lokal mengenai nama asing sekaligus mandeknya pembangunan Observatorium Wallace menjadi alasan perubahan nama jalan.
Di sisi lain, pihak Kesultanan Ternate sempat berpendapat bahwa AR Wallace pernah tinggal di sebuah rumah di dekat kedaton (kini bersebelahan dengan kantor Bank Mega). Namun bagi Sangkot, pendapat itu tidak kuat dari aspek lokasi maupun ukuran rumah. Dalam risetnya, Sangkot menyimpulkan bahwa rumah Paunga adalah bekas kediaman AR Wallace. Dari hasil riset itulah, keluarga Paunga baru menyadari bahwa rumah mereka diklaim sebagai bekas tempat tinggal AR Wallace.

A. Tek bercerita, rumah tersebut sudah pindah dari tangan ke tangan yang lain. Dulu, tuan tanahnya adalah pengusaha keturunan Tionghoa. Ia tak mengingat nama pengusaha tersebut. Namun, ayahnya, Paunga, membeli rumah dari tangan Ucu Bay, sekitar tahun 1974. Saat dibeli, kondisi bangunannya pun sudah mulai rusak sehingga direnovasi hingga tak menyisakan bentuk asli rumahnya. Yang tersisa hanya tiang, sumur dan kamar mandi. Namun kini, tinggal tiang yang menjadi fragmen petunjuk fisik satu-satunya yang masih utuh.
“Rumah ini sebe (bapak) beli Rp3 juta lebih, pada tahun 1970-an. Masih bentuk asli. Waktu tong tinggal itu saya kelas 2 SD. Plafonnya juga masih pakai gaba,” ucapnya.
Menurut A Tek, pernah ada rencana bahkan nyaris peletakan batu pertama, membangun monumen Wallace. Tapi terkendala dengan pihak keluarga ya g menolak karena tidak ada kesepakatan harga rumah. Saat ini A Tek bersama istri dan anak menghuni rumah tersebut setelah ayahnya, Paunga, meninggal pada 2019. Beberapa tahun kemudian ibunya pun ikut meninggal.
A Tek bilang, sebelumnya, sejumlah warga negara asing (WNA) seperti Inggris, Belanda, Jepang, dan negara lainnya juga pernah bertandang, lalu memotret dan mengambil sampel air sumur di belakang rumah mereka. Meski begitu, para WNA tersebut tak menjelaskan soal maksud kedatangan di Ternate.
“Dulu, orang bule juga datang, hanya bilang ada ‘harta karun’,” kata A Tek, anak ketiga Paunga dari lima bersaudara tersebut.
Setelah itu, rumah mereka kerap ramai disambangi pelancong lokal maupun manca negara yang membuat ketenangan keluarga Paunga mulai terusik. Bahkan ada yang datang di waktu yang tidak tepat, saat malam hari. Namun kini, ia mengaku sudah sepi pengunjung.
***
Dalam buku, Pencarian Rumah Alfred Russel Wallace yang Bersejarah di Ternate (2022) karya Nicholas Hughes and Rinto Taib, menyebutkan, Akio Niizuma, ahli biologi evolusioner Universitas Hokkaido, memulai pencarian rumah AR Wallace di kawasan Benteng Oranje pada 1980 dan 1988. Akio Niizuma mewawancarai banyak warga setempat dan menemukan dua sumur tua. Satu di antaranya di belakang rumah Paunga, yang ia simpulkan sebagai tempat tinggal Wallace.
Pada 2008, riset Sangkot Marzuki dan Syamsir Andili, mantan Wali Kota Ternate, yang mengangkat kisah Dr. Ahmad Najib Aziz dan dr. Mochtar Zein Pattiha, juga berkesimpulan serupa hasil penelitian Akio Niizuma.
Perubahan klaim rumah Paunga sebagai kediaman AR Wallace dimulai dari Dr. George Beccaloni, ahli zoologi dan sejarawan sains sekaligus Direktur Proyek Korespondensi Wallace dan Pendiri Dana Peringatan Wallace, yang melakukan riset pada 2012. Ia mengungkapkan, bekas rumah AR Wallace berada di salah satu lahan kosong di simpang tiga—antara jalan Pipit dan Jalan Merdeka. Namun, Beccaloni tak memastikan keberadaan sumur di kawasan rumah tersebut.

Riset Beccaloni ini menjadi rujukan peneliti selanjutnya. Pada 2019, Prof. Paul Whincup, ahli hidrogeologi dan rekan-rekannya dari tim Alfred Russel Wallace Memorial Foundation yang berbasis di Inggris dalam kegiatan The Alfred Russel Wallace Correspondence Project, kembali menelusuri jejak Wallace.
Menurut Rinto Taib, Kepala Museum Alfred Russel Wallace di Ternate, ada tujuh sumur tua yang teridentifikasi di kawasan Benteng Oranje. Lima sumur berada di sekitar kawasan Jalan Juma Puasa. Dua sumur lainnya ditemukan di Kawasan Fitnes Sunyie Parada Tenate, dan di sebuah rumah yang kini menjadi Kafe Sini, di Kelurahan Santiong.
Whincup memeriksa sumur-sumur tersebut kecuali di Kawasan Fitnes Sunyie Parada Ternate (karena dulu di kawasan lapangan militer Oranje ini tak diizinkan rumah pribadi). Dalam risetnya, sumur-sumur tua itu memliki kadar kemurnian dengan suhu air 28°C. Sementara umur dan konstruksinya sudah sejak abad ke 17 sampai 18 —mirip dengan kontruksi sumur yang ada di Benteng Oranje sejak tahu 1607.
Selain itu, sumur yang diperiksa berdiameter 1,2 meter dengan kedalaman galian yang bervariasi. Sebagai pembanding, sumur di Kafe Sini sedalam 11,6 meter, berada di belakang rumah Paunga (rumah Santiong) sedalam 13 meter.
Dari sejumlah sumur yang diperiksa, Whincup cenderung tertarik pada sumur di Kafe Sini. Beberapa meter dari sebelah kanan Kafe ini, ada lahan kosong seluas 850 Meter persegi dengan lebar 17,6 meter, berada di antara Jalan Pipit dan Jalan Merdeka yang dianggap sebagai bekas rumah Wallace—Paul Whincup menyebut lahan kosong ini sebagai ‘Situs Oranje’. Lokasi dan letaknya dianggap sesuai dengan petunjuk AR Wallacea, yang juga bukan pemukiman Eropa sebagaimana di lokasi Rumah Paunga.

“Dari tiga versi, tim Alfred Russel Wallace Memorial Foundation yang berbasis di Inggris lebih sepakat dengan hasil riset Paul bahwa rumah Wallecea berada di lahan kosong. Dulu bekas rumah makan Mijo,” kata Rinto, yang juga Sekretaris Dinas Kebudayaan Kota Ternate, kepada reporter Kadera.id di ruang kerjanya, Kamis, 3 September 2026.
Meski begitu, kesimpulan tersebut belum dibuktikan dengan parameter arkeologi seperti temuan fondasi maupun material bangunan asli rumah AR Wallace. Rinto bilang, lahan kosong ini sempat ingin dibeli oleh Pemkot Ternate. Namun, terkendala dengan harga yang tinggi sekitar Rp3 miliar tak sesuai ukuran lahan. Pemkot tak berani mengambil resiko karena berpotensi menjadi temuan BPK.
“Akhirnya tidak dibeli. Mungkin sudah dibayar oleh pemilik Kafe Sini. Tapi Pemda harusnya lebih berani. Apalagi sudah ada hasil riset yang jauh lebih kuat dari sisi akademis,” ujarnya.

Ketika reporter Kadera.id menyambangi Kafe Sini, pada Kamis, 10 September 2026, Gali, seorang barista, menunjukkan sumur yang disebutkan oleh Paul Whincup. Namun sudah ditutup beton dan hanya ada sebuah selang besi sebagai penguap udara. Letaknya, tepat di ruang tengah sebuah bangunan tersebut.
“Pemilik kafe ini bernama Amas Kodja,” katanya singkat, saat ditanya nama owner kafe Sini. Ia tak banyak bercerita soal sumur dan ruma tersebut.
Sementara, lahan kosong atau Situs Oranje, yang dianggap sebagai bekas rumah Wallace sudah dikelilingi tembok beton dan pagar besi. Tepat di depan lahan ini terpampang papan larangan masuk, dengan mencantumkan nama hak milik H. Bambang Sumitro. Kondisinya tampak tak terurus, bahkan sudah ditumbuhi rumput dan tanaman liar. Sejak bergulirnya perdebatan rumah Wallace di Ternate, belum ada langkah ekskavasi untuk mendapat data arkeologi fondasi bangunan rumah lama.
***
Dr. Nurachman Iriyanto, Arkeolog Universitas Khairun mengatakan, dalam perspektif sejarah, catatan tertulis adalah data utama sekaligus didukung dengan petunjuk fisik seperti bangunan, rumah, maupun peninggalan lainnya. Namun, jika tidak mendapatkan petunjuk secara utuh, maka harus dibuktikan melalui pendekatan historical arkeologi (arkeologi kesejarahan), baik observasi, ekskavasi hingga tahap analisis.
“Historical Arkeologi ini adalah salah satu kunci untuk membuka semua ruang-ruang perdebatan (rumah AR Wallace). Dibuktikan di lapangan berdasarkan peninggalan arkeologi,” katanya.
Menurutnya, hingga kini belum dilakukan studi arkeologi dari pelbagai klaim-klaim dan perdebatan rumah Wallace di Ternate. Selain fisik maupun kualitas air sumur, kata dia, mestinya material yang mengendap di dalam sumur seperti sampah bisa diteliti untuk dijadikan data.
“Kita tidak tahu sejauh mana akan mengalami distorsi. Tapi, kalau kita konfirmasi dengan peninggalan arkeologi, distorsi tadi sebisa mungkin dikurangi,” ujarnya.
Di tengah banyak klaim dan perdebatan ilmiah soal rumah AR Wallace, ia menilai tahap manajemen dan pengelolaan sumber daya budaya yang bernilai sejarah di tingkat Pemkot Ternate hingga Provinsi Maluku Utara masih lemah. Penutupan sumur yang menjadi petunjuk fisik, adalah satu bukti kelemahan manajemen tersebut.
“Manajemen sumberdaya budaya ini bicara tentang jiwa. Kalau belum menjiwai, jangan harap cagar budaya akan dikelola dengan benar,” tandasnya.

Sementara, Dr. Umi Barjiyah, Dosen Sejarah Unkhair, mengatakan klaim terhadap suatu tempat bersejarah tidak salah jika mempunyai sumber yang valid. AR Wallace sendiri tidak secara detil atau spesifik menjelaskan letak rumah yang ia sewa. Namun, AR Wallace memang menuliskan bahwa rumah dekat dengan pusat kota, tetapi tidak sulit menjangkau pedalaman atau gunung. Untuk menuju pasar dan pantai berjalan sekitar 5 menit. Menurut Umi, letak pasar ini sekarang berada di kawasan Plaza Gamalama Modern.
“Setelah rumahnya, tidak ada rumah orang Eropa di kawasan itu. Karena rumah orang Eropa berada di jalan Branjangan,” ungkapnya.
Ia menyebut jika benar-benar mengetahui rumah tersebut, harus ada penggalian struktur bangunan lalu disesuaikan dengan denah. Sumur juga perlu digali untuk menentukan kedalaman dan kadar airnya. Ia mengatakan, hingga saat ini belum ada sumber yang valid selain tulisannya yang menjelaskan tentang posisi rumah Wallace.
“Dari beberapa klaim tersebut, penjelasan yang ditulis pada bukunya menjadi fakta yang lebih kuat daripada perkiraan-perkiraan lain,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.