KAKI dan jalan yang membentuk filsafat. Konon, orang yang berjalan adalah orang yang berpikir. Berjalan itu berkata. Yang teringat adalah sosok-sosok filosof masa lalu di pelbagai negeri. Kaki yang berjalan berarti ide atau gagasan yang berjalan. Berpikir dengan berkeringat dan mendapat limpahan kasih dari langit. Di jalan yang tanah, batu, atau rumput, kaki-kaki bergerak dan meninggalkan jejak. Di sepanjang jalan, filsafat sedang disusun dengan terpaan angin, mata yang terbuka, debu yang melekat, dan desahan nafas.
Para pembaca Sang Nabi sadar bahwa membaca kalimat-kalimat yang dibuat Kahlil Gibran membuatnya ikut berjalan bersama tokoh yang mahir berkata sebagai jawaban, sentilan, atau nasihat. Buku kecil dan tipis yang terbit seabad lalu itu meyakinkan pembaca mengenai berjalan dan kata-kata. Yang ikut berjalan makin mengerti raga, alam, dan bahasa. Kahlil Gibran menulis sastra yang berjalan meski orang-orang yang membacanya memilih membuka buku di atas meja atau memangkunya. Buku yang tidak diharuskan ikut berjalan bersama pembacanya.
Kahlil Gibran memang mengajarkan pembacanya berjalan tapi ia hidup di kota yang membatasi kenikmatan dan ketakjuban kaki-kaki berjalan ke segala arah. Yang termuliakan saat berjalan kaki adalah Nietzsche. Buku-bukunya ditulis dari kaki-kaki yang berjalan di desa atau gunung. Nietzsche berpikir selagi berjalan, mendapat jeda untuk lekas menuliskan yang bermunculan dan mendesak ternyatakan lewat kata-kata.
Nietzsche memiliki tahun-tahun membahagiakan saat menemukan desa, kota kecil, dan gunung untuk “ibadah” berjalan. Hampir setiap hari, ia berjalan jauh. Rute yang dipilihnya ikut menentukan kalimat-kalimat yang tertuliskan dalam buku-buku yang sering menggegerkan pembacanya. Namun, ia tidak selamanya bisa menjadi pejalan kaki. Tubuh yang rapuh atau sakit-sakitan memaksa ia duduk di kursi atau menghuni ranjang dalam waktu yang lama. Ia ingin berjalan tapi “kemustahilan”. Hasrat berjalan dihabisi oleh sakit dan kegilaan menjelang akhir hidupnya.
Frederic Gros dalam buku berjudul A Philosophy of Walking (2020) menjadikan Nietzsche rujukan dalam membedakan buku-buku yang dihasilkan dari berjalan dan mendekam di ruangan. Yang diungkapkan: “Buku-buku dari para penulis yang terpenjara dalam ruang kerja dan tercangkok ke kursi biasanya berat dan sulit dicerna. Buku-buku itu lahir dari kompilasi buku-buku lain di atas meja. Mereka seperti angsa yang digemukkan: dijejali nukilan, disesaki rujukan, digayuhti anotasi. Mereka berat, terlalu gemuk, membosankan, dan dibaca pelan-pelan dengan susah payah.” Pembaca yang ingin bergairah mendingan membaca buku-buku yang ditulis oleh sosok-sosok yang rajin berjalan. Maka, buku itu bakal terjamin bernyawa. Buku-buku yang diwariskan Nietzsche adalah filsafat dan cerita selama berjalan.
Kita membayangkan berjalan pada abad XIX dan XX. Mereka yang berjalan masih menemukan keajaiban-keajaiban. Yang berjalan yang berhak mendapat mukjizat. Berjalan bukan cuma raga dan menikmati keindahan. Perbuatan itu menghimpun beragam kehendak dan keberkatan. Kita yang membayangkan masih mungkin menyadari kesilaman yang penuh pesona. Kini, abad XXI dikutuk firman kemalasan, yang mengakibatkan berjalan adalah sejenis “hukuman” atau “pembebasan” yang samar.
Sangkaan kita tidak sepenuhnya benar. Abad XXI masih memungkinkan orang berjalan jauh, melintasi negeri-negeri. Berjalan yang tidak mengharuskan berfilsafat. Yang berjalan itu bernama Agustinus Wibowo. Di negeri-negeri asing, ia berjalan kaki meski tetap menaruh raga dalam beragam alat transportasi. Berani berjalan di tempat-tempat asing dan berjumpa orang-orang tak dikenal itu memerlukan ketulusan. Kita tidak menganggapnya perbuatan yang ingkar takdir abad XXI. Berjalan kaki justru “melawan” secara elok dan mujarab.
Yang membaca Garis Batas dan Selimut Debu ikut merasakan lelah dan gairah yang tidak semuanya bisa dituliskan dalam seribu halaman. Pada akhirnya, Agustinus Wibowo tidak sekadar berjalan. Ia mengajak kata-kata berjalan, yang menghasilkan buku-buku terpuji. Berjalan kaki masih membuktikan kebaikan, keindahan, kerukunan, dan kebahagiaan.
Pada saat berjalan kaki, identitas menjadi pertaruhan untuk tersembunyi atau terbuka. Yang menyadari bahwa berjalan kaki itu penolakan atas kecepatan dan ketergesaan berhak menjaminkan identitas agar tidak menjadikan petaka. Di pelbagai kota besar di Jepang, Tiongkok, dan negara-negara di Eropa, kita menyaksikan orang-orang yang berjalan cepat. Mereka tidak sedang dalam perayaan kenikmatan. Banyak yang terperintah atas nama politik, bisnis, atau pelesiran. Mereka yang membawakan identitas untuk tidak mudah bersenyawa dengan jalan dan sekitar. Maka, yang masih berjalan kaki di abad XXI setidaknya belum terlalu tergoda untuk “bermalasan” tapi sudah dapat berpindah tempat.
Berjalan kaki itu melelahkan. “Kebenaran” yang terus dipercaya. Kita tidak mau membantahnya dengan selusin argumentasi yang tidak akan dibaca atau didengar banyak orang. Jalan-jalan terus bertambah tapi kaki tidak menapak tanah, batu, rumput, atau aspal. Yang bergerak adalah roda-roda.
“Kebenaran” yang menjadikan kemalasan adalah keniscayaan mulai diomeli oleh dokter dan pengamat kesehatan. Maka, bermunculan anjuran untuk berjalan kaki setiap hari dengan langkah yang terhitung dan tercatat. Pamrihnya agar raga sehat. Pikiran dan perasaan pun semestinya dapat sejenak menangkal bosan, muram, dan tertekan. Yang mau berjalan kaki sesuai petunjuk-petunjuk akhirnya rajin minum susu, memilih makanan sehat, dan menentukan tempat yang tepat. Kita menyadari petunjuk-petunjuk kadang diboncengi iklan-iklan yang mencipta “kebenaran-kebenaran” lainnya.
Pengalaman berjalan kaki kadang hampir menjadi pertunjukan. Ada yang malah sibuk mendokumentasi adegan berjalan menggunakan gawai, yang nantinya dikabarkan atau disombongkan melalui media sosial. Yang berjalan, yang mencipta citra-citra, bukan cerita-cerita.
*Kabut merupakan nama pena dari seorang pengarsip, esais, dan kritikus sastra Indonesia

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.