Wabah penyakit difteri, infeksi serius pada hidung dan tenggorokan, kembali ditemukan di Kota Ternate setelah lebih dari tujuh tahun tidak dilaporkan. Penyakit yang ditandai dengan munculnya selaput putih keabu-abuan di tenggorokan ini terakhir tercatat pada tahun 2018.
Dinas Kesehatan Kota Ternate menyampaikan bahwa pada tahun 2025, kasus difteri kembali muncul dan diduga telah merenggut nyawa seorang bocah di wilayah Ternate Selatan.
“Saat ini ada wabah penyakit difteri yang tergolong langka namun mudah menular. Kasus ini kembali ditemukan pada 2025 setelah terakhir kali dilaporkan pada 2018,” ujar Nuraini, Fungsional Epidemiologi Dinas Kesehatan Kota Ternate, saat diwawancarai oleh reporter Kadera.id di ruang kerjanya, Selasa, 26 Agustus 2025.
Nuraini menjelaskan, kasus ini terdeteksi setelah pihaknya menerima laporan dari seorang dokter yang menangani pasien anak dengan gejala khas difteri. Setelah diperiksa, ditemukan selaput putih keabu-abuan di tenggorokan pasien yang bukan disebabkan oleh amandel, tetapi diduga kuat akibat infeksi difteri.
“Pasien langsung dirujuk ke UGD RSUD Chasan Boesoirie. Setelah menjalani perawatan selama sepuluh hari, anak tersebut dinyatakan meninggal dunia,” ungkap Nuraini.
Menanggapi temuan tersebut, Dinas Kesehatan langsung melakukan tindakan cepat dengan memberikan antibiotik eritromisin selama tujuh hari berturut-turut kepada anggota keluarga, teman dekat korban, serta lingkungan sekolah untuk mencegah penularan.
“Kita segera mengambil langkah pencegahan dengan melakukan pengawasan ketat terhadap keluarga dan lingkungan sekolah korban, termasuk pemberian antibiotik,” tambahnya.
Nuraini menyebut, pengobatan difteri sangat tergantung pada ketersediaan obat yang biasanya disiapkan berdasarkan laporan kasus. Oleh karena itu, distribusi obat akan dilakukan jika ada laporan kasus yang masuk.
Ia menjelaskan, difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae dan dapat menular melalui droplet, penggunaan alat makan dan minum bersama, serta kontak langsung dengan cairan dari saluran pernapasan atau luka di kulit.
Gejala difteri bisa berupa faringitis, tonsilitis, trakeitis, atau kombinasinya. Pengidap bisa saja mengalami demam, namun ada juga yang tidak. Salah satu ciri khasnya adalah munculnya pseudomembran berwarna putih keabu-abuan yang sulit dilepas dan mudah berdarah jika dipaksa. Dalam kasus parah, dapat menyebabkan pembengkakan leher atau bullneck dan berujung pada kematian.
Untuk pencegahan, Nuraini mengimbau masyarakat agar menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), mematuhi protokol kesehatan, serta mengikuti program imunisasi lengkap.
“Pencegahan difteri harus dimulai sejak dini, melalui imunisasi DPT-HB-Hib untuk bayi dan balita, imunisasi DT untuk anak kelas 1 SD, serta imunisasi TD untuk anak kelas 2 dan 5 SD,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.